Senin, Desember 27, 2010

Apa Pantas Berharap Syurga


Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan". Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?


Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Baca Qur'an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?

Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.

Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?

Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang sejak kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.
Astaghfirullaah ...



ditemukan dalam file lappie D:\netbook big\ISLAMIC\word\tantra.....

Sabtu, Desember 04, 2010

Do'a....

Ya ALLAH hamba ingin bisa lebih bersabar lagi,
hanya ingin menjalani setiap jejak langkah dengan senyum indah.
Senyum indah keimanan yang memang beberapa tahun ini hamba kehilangan.

Izinkan hamba untuk bisa menjadi lebih baik lagi.
Menjadi hamba yang lebih bersyukur.
Menjadi hamba yang lebih cinta kepada MU dari pada yang lainnya.

Kuatkanlah hamba Yaa Rabb...
Kuatkan dalam menerima setiap anugrah yang Engkau berikan kepada hamba.
Kuatkan dalam melewati setiap ujian yang memang karena Engkau hadirkan karena sangat mencintai hamba.

Sadarkan hamba Yaa Rabb...
Jujur hamba terlalu terbuai dengan kenikmatan ini.
Hamba menginginkan kenikmatan yang dulu.
Kenikmatan yang membuat hamba merasa hanya Engkau di hati hamba.
Kenikmatan ketika ibadah itu terasa indah.
Kenikmatan ketika shalat itu adalah waktu bagi hamba untuk mengadu padaMU.
Kenikmatan ketika malam adalah adalah saat Engkau paling dekat dengan hamba.

Kembalikan Yaa ALLAH...
hanya ingin itu kembali...


===pagi hari at Humz===
===0846/04122010===

Selasa, November 30, 2010

===keimananku===

KEIMANANKU

Andai matahari di tangan kananku
Takkan mampu mengubah yakinku
Terpatri dan takkan terbeli dalam lubuk hati


Bilakah rembulan di tangan kiriku
Takkan sanggup mengganti imanku
Jiwa dan raga ini apapun adanya


Andaikan seribu siksaan
Terus melambai-lambaikan derita yang mendalam
Seujung rambutpun aku takkan bimbang
Jalan ini yang kutempuh


Bilakah ajal kan menjelang
Jemput rindu-rindu syahid yang penuh kenikmatan
Cintaku hanya untukmu tetapkan muslimku selalu
By: Shaff-fix


Sabtu, November 20, 2010

2233/20112010

Jujur... saya sudah lelah. Begitupun dengan kali ini ketika harus tersenyum miris melihat mereka dengan indahnya tersenyum bahagia di hari bahagia. Dan lihat saya... masih seperti ini tidak berbeda jauh dengan pulang kampung sebelum sebelumnya.

Dan saya pun terlalu lemah untuk mampu berpijak... dan harus menunggu saat itu yang entah kapan bisa diraih..
===2233/20112010===

Selasa, November 09, 2010

JUNDOENK




merindukan my JUNDOENK....
pa kabar nya ya???


Selasa, Oktober 12, 2010

TUHAN.... mengapa harus saya??


Sebuah tulisan yang dikirimkan seorang teman (ferdis H)...
Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yang memenangkan tiga gelar juara Grand Slam : US Open (1968), Australia Open (1970), dan Wimbledon (1975).
Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yang mengharuskannya menjalani operasi bypass. Setelah dua kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui transfusi darah yang ia terima.
Seorang pengemarnya menulis surat kepadanya, "Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?"
Ashe menjawab,
"Di dunia ini ada 50 juta orang yang ingin bermain tenis,
Diantaranya 5 juta orang yang bisa belajar bermain tenis,
500 ribu orang belajar menjadi pemain tenis profesional,
50 ribu datang ke arena untuk bertanding,
5000 mencapai turnamen Grandslam,
50 orang berhasil sampai ke Wimbledon,
4 orang berlaga di semifinal,
Dan hanya dua orang yg berlaga di final.
Ketika saya menjadi juara dan mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan :"Mengapa saya?",
Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan : "Mengapa saya?"
Sadar atau tidak, kerap kali kita merasa hanya pantas menerima hal-hal baik dalam hidup ini : kesuksesan, karier yang mulus, kebahagiaan dan kesehatan.
Ketika yang kita terima justru sebaliknya : penyakit, kesulitan, penderitaan dan kegagalan, seringkali kita menganggap Tuhan tidak adil. Sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Tuhan.
Tetapi tidak demikian. Ashe berbeda dengan kebanyakan orang. Itulah cerminan hidup beriman : tetap teguh dalam pengharapan, walau ada beban hidup yang menekan.
Ketika menerima sesuatu yang buruk, ingatlah saat-saat ketika kita menerima yang baik.
"A winning horse doesn't know why it runs the race. It runs because of beats & pain. "
"Life is a race, God is your rider".
So if u are in a pain,
then think this : "GOD WANTS YOU TO WIN".
Keep fighting..

http://rolays.blogspot.com/2010/09/motivasi-tuhan-mengapa-harus-saya.html

Selasa, Agustus 31, 2010

Sendiri Menyepii....



kembalikan seperti dulu lagi!!!

Senin, Agustus 30, 2010

Mengalah lebih baik....


Mengingat sifat seorang yang sangat luar biasa hebatnya....
dan semoga diri bisa mengikuti sifat yang tidak semua orang bisa memiliki....

Minggu, Agustus 29, 2010

Sosok Azzam Si Anak Sholeh

Namanya Azzam. Abi menamainya demikian karena terinspirasi dari seorang pejuang abad ini, Dr. Abdullah Azzam. Tak hanya itu, sosok si Abi pun memang memiliki Azzam (Kekokohan Tekad) yang kuat dalam menjaga hidayah Allah SWT yang telah dilimpahkan.

Pendek cerita, delapan tahun lalu, ia meminang seorang muslimah, berbeda pulau, berbeda suku, berbeda latar belakang keluarga, namun satu cita-cita dengannya, membentuk keluarga bahagia sebagaimana teladan dari Rasulullah SAW dengan meniti keridhoan ilahi. Skenario Allah SWT sungguh indah, tiada seorang pun yang menyangka bahwa hidup si Abi yang dulu “khasnya anak jakarte”, rambut punk, dan malas belajar, Lalu berubah drastis menjadi rajin belajar, aktif Rohis, selepas SMA menembus dua PTN favorit, dan melesat jauh dalam karir KKN-nya (Kerja, Kuliah+ Nikah).

Tiada pula yang menyangka, seorang Abi yang rajin menggendong Azzamnya saat kuliah, ke laboratorium, ganti popok dan menyuapin bayi saat istrinya juga kuliah, sibuk mengajar privat, dan mengisi kajian ilmu, lalu tiba-tiba lulus dengan nilai gemilang dengan jadwal lulus lebih dulu dibanding teman seangkatannya.

Tidak sampai disitu, lebih dari sepuluh perusahaan menerimanya dalam waktu singkat, dan dengan pertimbangan “Azzam” maka ia pilih yang sesuai nuraninya. Sama seperti yang dirasakan istrinya, sejak dalam kandungan, Azzam sangat penurut, diajak ngobrol selalu menyahut, dengan goyangannya dalam perut. Naik turun jalanan kampus, naik-turun tangga ke lantai tiga, mendengarkan kuliah bahasa Arab adalah santapan Azzam sehari-hari saat dalam kandungan.

Satu peristiwa unik, saat Abi mengelus perut istri, “Azzam, tolong tungguin abi pas mau keluar dari perut ummi, Abi mau kerja praktek dulu nih ya nak…”. Gerakan di perut terasa sebagai jawaban atas ciuman mesra. Dan benar itu terjadi. Pada hari itu, Abi baru tiba di kota tempat sang istri akan melahirkan, pukul sebelas pagi, perjalanan yang ditempuhnya adalah 22 jam dengan bus antarpulau. Kemudian pukul dua siang, perut istrinya terasa mulas berkepanjangan, segera mereka ke rumah sakit, dan tak kurang dari dua jam, Azzam lahir, Subhanalloh… cepat dan sangat lancar, komentar dokter waktu itu. Sejak Ramadhan 7 tahun lalu, Azzam terbukti sebagai anggota tim yang hebat dalam rumah tangga sebuah pernikahan usia dini nan islami.

Jangan ragu akan janjiNYA, "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al Insyiraah: 5-6).

Sewaktu membuat skripsi dan kesulitan mencari beberapa ratus dollar, malah Allah SWT menganugerahkan project kerja sebagai ganti tema skripsi dan berhonor untuk si Abi, “rezeki Azzam memang banyak, Terima Kasih Ya Allah…”, gumamnya.

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al Ankaabut:69)

Azzam tak hanya memperkuat kadar keimanan bagi orang tuanya, ia juga menularkan hidayah pada orang lain, ada dua peristiwa indah yang sangat kukenang,

Pertama, waktu Azzam naik bus bersamaku, ia bernyanyi dan menghitung, “satu…dua…tiga… dst berbelas-belas,” seraya menoleh ke belakang, lalu tiba-tiba ia berhenti bernyanyi, “ihhh, tante jelek!”, tunjuknya pada orang yang duduk di belakangku.

Aku jadi tak enak hati, “wah maaf yah bu…,” segera kusapa ibu di belakangku. Ternyata ibu itu dengan ramah menjawab, “gak apa-apa, namanya anak-anak…,”lalu menoleh pada Azzam, “kenapa tante jelek dek? Ih, kamu lucu deh topinya…,” beliau tersenyum.

Azzam menyahut, “Naaah… sekarang tante gak jelek lagi. Tadi jelek banget, karena tante cemberut, hehehehe,” polos sekali. Singkat cerita, sang ibu yang ternyata pemilik sebuah restoran, sampai kini telah menjadi salah satu temanku, kami tetap saling berkirim sms saat telah berbeda kota, ia sangat menyayangi Azzam.

Kedua, sewaktu Azzam menyindir Bu Tina (bukan nama sebenarnya), dengan polos dan spontan ia berkata, “bu…kenapa ibu gak pake kerudung kayak ummiku? Kenapa sanggulnya harus dipamerkan? Ibu gak takut kalau dimarah Allah yah…? Ibu pasti cantik deh kalo pake kerudung, tanya aja sama ummi. Kalau gak punya kerudung, minta aja sama ummi Azzam...,” seketika Bu Tina bercakap padaku, “Ya Allah, ummi… anak kamu ini, malunya aku…” dan berkat HidayahNYA, Bu Tina selalu menutup aurat hingga kini.

Namun saat pertama kali sekolah, tampak karakter pemalunya, dan disikapi positif oleh guru-guru Azzam. Aku pun tidak panik saat itu, adalah wajar jika anak kita merasa malu di tengah komunitas yang baru. Apalagi sekolah di luar negeri, harus lebih banyak menjaga rasa malu diri, dalam arti malu untuk ikut terwarnai prilaku yang tidak terpuji.

Dalam suatu riwayat, Salim bin Abdullah dari ayahnya, mengatakan bahwa Rasulullah saw lewat pada seorang Anshar yang sedang memberi nasihat (dalam riwayat lain: menyalahkan) saudaranya perihal malu. (Ia berkata, "Sesungguhnya engkau selalu merasa malu," seakan-akan ia berkata, "Sesungguhnya malu itu membahayakanmu.") Lalu, Rasulullah saw. bersabda, "Biarkan dia, karena malu itu sebagian dari iman." (Shahih Bukhari)

Azzam pernah terluka hatinya saat hampir berusia 5 tahun, menangis di kubur sang adik yang dinantikan, namun ia tetap memanjatkan doa kepada Allah SWT usai sholat, “Ya Allah… kalau Engkau sayang adikku, tolong jagalah dia di surga. Terus kasih aku adik lagi, supaya aku bisa bermain dengannya…,” bahkan mata kami turut basah mendengar doanya. Allahu Akbar! Sekejap saja, Allah SWT mengabulkan doanya, dan ia mengelus-elus perutku tanda bermain dengan adiknya. Terima kasih Ya Allah, semoga kami selalu bersyukur atas segala anugerahMu. Robbi habli minassholihin. Amiin.

”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia…” (al-Kahfi: 46), alangkah bahagianya kami bersama Azzam, pewujud tekad sejati & dengan kehadirannya kami belajar menjadi orang tua yang baik. Kini, kuucapkan selamat kepadanya, di awal usia ke tujuh, ia berpuasa dengan lancar selama 18 jam per hari di negeri empat musim ini. Kuatkanlah, Ya Robb...

http://www.eramuslim.com/oase-iman/bidadari-azzam-sosok-azzam-si-anak-sholeh.htm


*teringat seorang sahabat yang dikarunia putra bernama Azzam dan telah dikaruniai juga satu orang putra lagi beberapa hari yang lewat, semoga ALLAH selalu memberikan keselamatan, rahmat, dan barokah NYA kepada Antum dan sekeluarga....Aminn...

Kamis, Agustus 26, 2010

Berusahalah utk bersabar hingga datang saatnya untuk 'diselamatkan'...


Beberapa hari yang lewat diri bercengkerama dengan teman ketika msih kuliah di negeri mpek mpek. Cerita panjang lebar mulai dari kegiatan sehari-hari hingga perihal tentang istrinya. Cerita tentang pengalaman untuk menyempurnakan setengah dien. Pengalaman yang menurut diri mengandung banyak hikmah, serta pengalaman yang mungkin tidak semua orang bisa mampu menjalaninya. Saluuddd buat antum akh...

Beberapa point penting yang cukup menjadi bahan renungan bagi diri. Bahan renungan yang mungkin menurut diri bisa sebagai pemacu semangat untuk bisa lebih baik lagi, baik itu dalam hal ibadah, kesabaran, keistiqomahan,dan keikhlasan.

Hal yang mungkin bisa diri ungkap saat ini yang sampai ini menjadi pikiran yaitu mengenai istilah "diselamatkan atau menyelamatkan" yang diutarakan oleh teman diri tersebut. Awal cerita tentang istilah tersebut diri hanya mengganggap biasa saja, tetapi semakin lama dan semakin diri renungkan ternyata itu mengandung makna yang sangat dalam. Istilah teman diri tentang dia yang mencoba untuk menyelamatkan, padahal sejujurnya menurut dia, dia lah yang sebenarnya telah diselamatkan.

Pada dasarnya sebuah pencapaian tujuan itu lebih gampang menuju puncak daripada bertahan ketika kita telah berada di puncak. Ketika berada dipuncak pertahanan yang kokoh lebih dibutuhkan dari pada jalan menuju puncak itu sendiri. Pertahanan perlu ditambah, diperbaharui dan diupgrade lagi supaya setiap cobaan, hadangan, dan halangan yang datang akan mampu diredam.

Konteks utama nya suatu saat akan merasakan nikmat ibadah. Nikmat yang tentu saja akan sangat sulit diperoleh tanpa adanya usaha yang ikhlas untuk mengharap ridho ILLAHI. Ketika seseorang berada di puncak atau minimal berada pada tahap lebih baik dalam hal ibadah maka dibutuhkan suatu "garis aman" yang diharapkan mampu sebagai batas minimal baginya untuk mendapat nilai aman dalam hal ibadah. Seseorang yang sudah mendalami ilmu agama pada masa pendidikan yang notabene nya jarang dihadapi "problema" hidup. Nahh problem atau masalah hidup yang sebenarnya itu akan dirasakan ketika sang mahasiswa tersebut terjun ke dunia real, istilahnya dunia pekerjaan. Idealisme yang menjadi prinsip atau pemahaman diteori (perkuliahan) akan dipraktekkan di tempat kerja, apakah keadaan ketika masih berada di perkuliahan masih sama kah dengan ketika masuk dunia kerja.

Memang ada yang mampu bertahan dengan idealis yang tinggi, tapi tentu tidak sedikit juga yang terkikis sedikit demi sedikit. Dalam hal ibadah pun juga sedikit akan berkurang, yang biasa nya tiap habis shalat baca Quran sekarang disibukkan dengan rutinitas kerja. Keadaan di rumah juga bisa demikian, dari cerita teman diri tersebut juga disadarinya bahwa bersyukur bisa "diselamatkan" sebelum titik puncak itu semakin jatuh ke bawah.

Memang seseorang bisa mampu bertahan, tapi kesabaran dan kemampuan bertahan pada zaman sekarang ini sangatlah susah sekali. Godaan bagi seseorang yang sudah mapan dalam hal materi, baginya tidak lah begitu susah untuk mendapatkan apa yang diinginkan tanpa mementingkan akibatnya. Tapi bagi yang benar-benar ingin selamat hendaknya mencari "penyelamat" terutama dalam hal ibadah dan keistiqomahan dan Rasulullah pun berwasiat :

''Wahai para pemuda, jika salah seorang dari kalian mampu menikah, maka lakukanlah, sebab menikah itu baik bagi mata kalian dan melindungi yang paling pribadi (farj).'' (HR Bukhari dan Muslim). Hadis di atas mengisyaratkan untuk segera menikah bila lahir batin, fisik maupun mental, telah mampu.

Bahkan, Rasulullah SAW mempertegas, '
'Barangsiapa yang suka syariatku, maka hendaklah mengikuti sunahku. Dan bagian dari sunahku adalah menikah.'' (HR Baihaqi).

*Humm... Berusahalah utk bersabar hingga datang saatnya untuk 'diselamatkan'...
(dipenghujung Ramadhan)

Kamis, Agustus 05, 2010

Perantauu..... Janganlah mengeluh!!!

Penyemangat diri di detik pergantian malam....
Jangan Ngeluh Mrioo!!!

The Zikr - Perantau.mp3



Perantau musafir perjuangan
Tabahkanlah hatimu
Berjuang di rantau orang
Sedih pilu hanya engkau yang tahu

Ingatan anak dan isteri
Janganlah mengiris hatimu
Kerinduan desa nan permai
Janganlah melemahkan semangat juangmu

Di waktu ujian badai terus melanda
engkau tetap gigih berjuang
membenarkan sabda junjungan
Terus memburu menuntut janji
Pastilah Islam gemilang lagi

Tapi pejuang kembara perjuangan
Ujian bukan batu penghalang
Kerana itulah syarat dalam berjuang

Oh pejuang
Di manapun ada ketenangan
Di manapun ada kebahagiaan
Bila insan kenal pada Tuhan
Kasih sayang dan pembelaan-Nya
bagi insan yang menyerahkan
Jiwa dan raga, anak dan isteri
Kepada Allah

Kamis, Juli 29, 2010

Chayooo.....

Mencoba menjalani rutinitas dengan kesibukan tingkat tinggi, sedikit penyemangat diri...


Maha Mendengar
Album :
Munsyid : Tsunami
http://liriknasyid.com


Kala gundah menghampiri
Ragu merasuki hati
jiwa kan terasa hampa
tak lagi bercahaya
Kala cobaan menguji
Hatimu seakan mati
Hidup pun terasa berat
Untuk di jalani
Kala mimpi tak terwujud
Bahagia bagai tlah lenyap
Seolah dunia tlah pergi
Tinggalkanmu...
Ingatlah sesungguhnya
Semua itu tak berarti
Dan ingatlah sesungguhnya
Allah...

Reff:
Maha mendengar semua...
Doa yang kita ucap
Dan maha memberi
s'gala yang kita minta
Sedang saat kita lupa...
Akan nikmat dariNya
Allah tetap menyayangi hambaNya.

*(semangat mrioo... ^_^ )

Merindukan cahaya...

Malam ini masih seperti malam-malam sebelumnya, masih tetap 100Watt... heheh.... Ya bedanya kali ini karena memang keadaan, keadaan atau mungkin yang lebih tepatnya kewajiban. Saat ini diri masih menikmatinya, yaa.. walaupun memang agak sedikit jenuh dengan perkuliahan.

Biasanya kesibukan malam diisi dengan keheningan saja, kadang-kadang sambil nyalain tv, tapi kali ini lain. Winamp lah yang lebih bagus diputar. Sambil milih-milih file mana yang biasa diputar, akhirnya tertuju pada My Computer > Umum > Netbook Big > ISLAMIC > nasyeed....
klik kanan trus Play in Winamp...... Lumayan praktis, tinggal duduk manis, pencet-pencet keyboard...

Uppss... tunggu dulu!! ada yang kurang.... oh iyaaaa.... Mute Volume ny di off-in dulu.... nah ini baru lumayan....
Wah masih kurang nie,,, gedein lagi volume nya jadi 82.. hehehe....

Lantunan pertama....

Rindu

Artist: Hijjaz

Rindu itu adalah
Anugerah dari Aallah
Insan yang berhati nurani
Punyai rasa rindu

Rindu pada kedamaian
Rindu pada ketenangan
Rindukan kesejahteraan
Dan juga kebahagiaan

Orang-orang yang bertaqwa
Rindu akan kebenaran
Kejujuran dan keikhlasan
Keredhaan Tuhannya

Orang mukmin merindukan
Anak-anak yang soleh
Isteri-isteri solehah
Keluarga bahagia

Para pencinta kebenaran
Rindukan suasana
Masyarakat yang terjalin
Aman dan sejahtera

Merindukan tertegaknya
Kalimah Allah di muka bumi
Dan dalam merindukannya
Keampunan Tuhannya

Dan seluruh umat itu
Merindukan cahaya
Yang menyinari kehidupan
Rindu pada Tuhan

*(teriring do'a untuk sahabat yang saat ini sedang di rawat, semoga cepat sempuh mas..)


Selasa, Juli 27, 2010

Maafkan saya...

Hmm.... Sebuah helaan nafas yang diri bisa lakukan. Ternyata terlalu banyak diri membuat kesalahan. Kesalahan yang diperbuat itupun cukup membuat diri kurang konsentrasi. Permasalahannya bukan hanya pada diri pribadi, tetapi juga orang lain. Permintaan maaf diri haturkan untuk yang telah tersakiti karena kesalahan diri...
Maafkan saya....
Semoga ALLAH mengampuni dosa-dosa hamba yang dhaif ini...
AMIN..

*(permintaan maaf yang hanya bisa saya sampaikan karena kelalaian dan kesalahan saya, semoga ALLAH SWT selalu menjaga sesuatu yang telah digariskan kepada umat NYA,,,AMINN...)

Penelitian: Kasih Sayang Seorang Ibu Akan Bantu Atasi Stres Anak Setelah Dewasa


Pernyataan dan perwujudan rasa sayang dan cinta seorang ibu terhadap anak-anaknya ternyata dapat membantu anak-anak tersebut untuk mengatasi stres mereka pada saat dewasa nanti, menyoroti ikatan ibu-anak dalam fleksibilitas emosional, kata kesimpulan satu penelitian.

Sebuah tim peneliti, yang dipimpin oleh Dr. Joanna Maselko dari Duke University di North Carolina, telah menemukan bahwa tingginya kasih sayang seorang ibu cenderung memfasilitasi pertalian aman antara ibu dan anak yang tidak hanya menurunkan tekanan sang anak tetapi juga dapat membantu anak untuk mengembangkan kehidupan yang efektif, sosial, dan keterampilan sewaktu sang anak menjadi dewasa.

"Kami menemukan bahwa pengamatan secara objektif pada tingkat kadar kasih sayang antara ibu dan bayi mereka yang berusia delapan bulan dapat dikaitkan dengan lebih sedikit gejala tingkat stres atau sakit sang anak sesudah 30 tahun kemudian," lapor tim peneliti.

Peneliti mengadakan penelitian membujur pada hampir 500 orang individu sewaktu masih anak-anak dan menjadi orang dewasa di negara bagian AS Rhode Island.

Pada awal penelitian, para psikolog menilai kualitas interaksi antara ibu dan anak-anak mereka yang berusia delapan bulan selama rutinitas perkembangan check up ibu dengan memberikan skor berdasarkan kehangatan interaksi keduanya.

Tiga puluh tahun kemudian, para psikolog melakukan wawancara dengan orang dewasa tentang kesejahteraan mereka dan emosi mereka dan menanyakan apakah mereka menganggap ibu mereka telah memberikan kasih sayang terhadap mereka.

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Epidemiologi dan Kesehatan Masyarakat, mengungkapkan bahwa orang dewasa yang sewaktu bayi mendapatkan kasih sayang yang lebih dari ibu mereka memiliki tingkat terendah atas kecemasan, permusuhan, dan gejala stres umum yang biasa terjadi pada orang dewasa.

Para peneliti mengatakan bahwa temuan ini menambah bukti bahwa semakin meningkat rasa sayang seorang ibu terhadap anaknya di masa kecil akan membantu sang anak melakukan persiapan untuk pengalaman kehidupan dewasa nanti, namun mengatakan pengaruh faktor lain, seperti kepribadian, pengasuhan, dan sekolah, tidak bisa dikesampingkan begitu saja.

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/penelitian-kasih-sayang-seorang-ibu-akan-bantu-atasi-stres-anak-setelah-dewasa.htm

Senin, Juli 26, 2010

Hanya ingin yang sederhana...


Sore ini diri bermenung, berusaha menggali apa yang terjadi dengan diri. Satu hal yang cukup diri dambakan, 'sedikit gemuk'.. Sudah beberapa kali diri mencoba untuk berusaha menambah berat, (saat ini tanpa minum obat cacing). Berusaha untuk selalu ngemil, itu yang diri lakukan ketika di Tanjung Pandan dulu tapi belum juga menunjukkan hasil. Ada yang mengatakan "kamu ini TBC kali mar?"... ahh sepertinya tidak...ALHAMDULILLAH...

Cara lain yang belum diri coba yaitu minum obat cacing, sepertinya sejak smp diri belum pernah minum obat cacing dan juga sejak smp juga diri merasa berat badan tidak bertambah. Statis di angka 52-54kg, pernah sekali 55kg itu pun karena nimbangnya sehabis makan. Kemaren waktu pergi nikahan teman malah 50kg. Hmmm....

Selain cara diatas masih ada satu hal lagi cara yang disarankan oleh seseorang yang saat ini diri anggap sebagai teman dekat.. atau malah lebih sebagai saudara. Solusi yang cukup bagus menurut diri >>nikah<< ... Yaa tentu saja diri belum mencobanya, dan hal "itu" bukanlah sebuah coba-coba. Alasan untuk nikah karena ingin ada yang "merawat" itu bukan merupakan sebuah alasan yang pantas untuk dapat dijadikan sebagai dasar untuk menikah. Dan tentu saja si penjaga (orang tua) si calon istri pasti bakalan bertanya alasan menikah. Gak mungkin kan jika diri menjawab biar ada yang ngurus saya supaya saya bisa gemuk... Heheh... bukan nya dapat jawaban malah dihajar sampai keluar pintu rumah empunya. Mengenai pernikahan, walimahan, atau baralek dalam bahasa minang nya memang diri sudah mempunyai hajatan sejak 2 tahun lebih yang lewat. Tapi ALLAH masih memberikan kepada diri kesempatan untuk menyempurnakan 'modal'. Modal yang diri maksud ilmu, kedewasaan, tingkah laku, sikap, dan tentu nya yang paling penting keistiqmahan ibadah. Terbesit niat ketika sebelum mengikuti pendidikan lagi, niat hati tulus yang hampir sama ketika mengikut test pertama kali setelah lulus SMA... "Hanya ingin yang sederhana, dan berilah sesuatu yang terbaik untuk agama hamba, untuk akhirat hamba" . Hmmmm....

Oh ya mengenai cerita kesederhanaan, cerita mengenai seorang yang yang pernampilan dan keseharian yang sederhana. Seorang bapak, diri mendengar cerita ini dari seorang ibu yang baik banget. Sang bapak ini ketika muda beliau mempunyai usaha sendiri, usaha yang beliau rintis dari 0. Alhamdulillah buah dari hasil usaha tersebut semakin berkembang. Beliau tetap berpenampilan sederhana, berpakaian sederhana, dan bergaul secara sederhana dengan orang lain, siapapun itu. Pada usia beliau sudah beranjak dewasa dan cukup umur untuk menikah, ada seorang ibu yang mau memperkenalkan anaknya pada sang pemuda ini. Pemuda ini juga penasaran dengan yang dikatakan si ibu tersebut, maka didapatlah kesepakatan untuk bertemu dengan anak ibu tersebut, ditempat ini, hari ini, dan jam segini.

Pada waktu pertemuan, pemuda yang terbiasa hidup sederhana, berpenampilan sederhana... padahal dengan keuntungan usaha yang beliau miliki bisa membeli pakaian yang sangat bagus. Tetapi karena sifat sederhana yang beliau miliki maka beliau menemui anak ibu tersebut dengan berpenampilan sederhana. Ketika pertemuan dengan si anak ibu, gadis tersebut merasa cuek dengan pemuda tersebut melihat penampilan pemuda itu, dan ia mengatakan " Maaf saya lagi nunggu pemuda pemiliki usaha ini, bukan kamu". mendengar perkataan gadis tersebut pemuda tersebut langsung pergi, hhmmm...

Ya itu cerita tentang penampilan seorang yang sederhana, ada satu lagi cerita yang diri ketahui tentang bapak ini masih tentang kesederhanaan. Masih ketika beliau masih muda, mungkin sedikit lucu. Ketika beliau sedang berjalan di pasar (yang saat itu berupa pasar tradisional), masih berpenampilan sederhana.. ada seorang ibu-ibu yang memanggil beliau dan meminta membawakan barang belanjaan untuk dibawa ke angkutan umum. Si Ibu itu mengira pemuda itu adalah buruh angkat, padahal beliau adalah pemilik usaha. Pemuda tersebut tetap membawakan barang belanjaan hingga ke angkutan umum dan menolak upah angkat yang diberikan si ibu. Ibu tersebut baru menyadarinya setelah berada diatas angkutang umum... Hehehe...

Kesederhanaan adalah sesuatu yang ingin diri capai. Setinggi apapun perolehan tetaplah menjadi sederhana yang tetap melihat ke bawah dan selalu bersyukur terhadap apa yang diperoleh. Seperti halnya pohon bambu yang tinggi tetapi tetap merunduk untuk selalu ingat bahwa ada yang masih berkekurangan dari dirinya.

*(teriring do'a utk seorang yang sangat sederhana di seberang selat sunda,
ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO
“ Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil ”)

Pulang Kampuang..


Ramadhan insyaALLAH akan datang beberapa hari lagi. Banyak hal-hal yang harus diperhitungkan ketika akan menyambut ramadhan kali ini. Mengenai masalah di kampus, kondisi kesehatan, hingga yang juga cukup memusingkan diri adalah masalah pulang kampung. Beberapa lebaran sebelumnya diri hampir tidak pernah tidak lebaran di kampung (Bukittinggi). Sesempit apapun waktu itu walaupun hanya dikasih jatah libur 7 hari, diri selalu berusaha untuk dapat berlebaran di kampung halaman.

Kejadian ketika lebaran tahun 2008, yang niat awalnya mencoba berlebaran di negeri rantau terpaksa pupus karena keinginan untuk selalu berada di tengah-tengah keluarga pada saat yang mulia itu. Dan perubahan rencana itu beradu argumen dengan kondisi keuangan. Yahh.. akhirnya pada sore sehari menjelang lbur cuti bersama, diri pun memutuskan membeli tiket pulang. Dan tak tanggung-tanggung harga tiket yang harus dibayar ketika membeli tiket lebaran sehari sebelum berangkat....

Hal terindah yang diri temui dari nominal tiket itu terbayar lunas ketika pertama kali diri melihat kota Padang. Hmm... sebandinglah dengan harga tiket... dan malah jauh lebih mahal nilai dari pualng kampung itu sendiri.

Dan saat ini, kejadian 2008 yang lewat kembali terulang. Jujur.... kondisi keuangan yang menipis, membuat diri harus memikirkan kemungkinan cara untuk pulang kampung. Tentu saja yang sudah diri pastikan adalah lebaran kali ini akan tetap seperti lebaran sebelumnya. Diri akan berada di tengah-tengah keluarga di kampung pada lebaran kali ini. Dan itu adalah suatu hal yang mutlak bagi diri.

Bis.... pernah terbesit keinginan untuk mencobanya. Sebelumnya diri juga pernah dari Jakarta menuju Bukittinggi dengan menggunakan bis, tapi itu kejadian 1999.. 11 tahun yang lewat.. atau mungkin kali ini diri akan mencobanya.... Hehehe...

Hmmm.... oh ya salah satu alasan penting bagi diri untuk selalu berlebaran di rumah karena Orang tua dan kondisi diri yang saat ini masih berstatus single. Mungkin hal terindah yang diinginkan orang tua pada saat lebaran adalah berkumpul dengan seluruh anggota keluarga lengkap. Dan diri akan mencoba untuk selalu memenuhinya... ^_^

Ya.. semoga saja lebaran kali ini diberi kemudahan untuk melaksanakannya.. AMINN...

Rabu, Juli 21, 2010

Perjalanan Panjang ini Belum Berakhir...

Jauh sudah perjalanan ini...
Keindahan setiap langkah yang dilalui tidak pernah bisa dilupakan...
Ketika langkah itu masih harus berjalan jauh... jauh melewati jalan terjal...
dan ketika harapan untuk berhenti sejenak untuk melepaskan lelah...
Yaa... masih belum juga ditemukan..

Inginnya segera berhenti sejenak dan merangkul seorang makhluk indah lainnya untuk dapat meneruskan langkah...



Halaahhhh.... ngerjain ap sih kamu???
sana belajar!!!
besok presentasi dudul!!!

Hoaammmm.....

(*sedikit pengisi jejak langkah yang bulan ini belum sempat dicoret lagi.. heehee)

Rabu, Mei 12, 2010

Aku Ingin Jadi Orang Biasa Yang Sederhana

Ini bukanlah puisi, tapi sekedar renungan dari gelisahnya hati, tentang harta pinjaman yang Allah titipkan pada kami ..

Apalagi yang harus dicari di dunia, selain mempersiapkan bekal menuju kesana?
Aku takut berlimpahnya harta akan menyilaukan mata dan hatiku.
Takut nyamannya rumah dan kendaraan membuatku tak lagi mampu meletakkan harta di tangan, tapi telah jauh meracuni hatiku.
Dan aku sungguh takut dengan ujian harta ini.

Aku bukan tak ingin kaya.
Juga tak ingin hidup miskin.
Aku hanya ingin memilih selalu hidup sederhana.
Aku ingin menjadi orang biasa.

Biarlah rumah kami begini, apa adanya, asal keluargaku dapat berteduh dan beristirahat, terhindar dari panasnya matahari dan basahnya hujan. Rumah model kampung dan tak mengikuti tren arsitektur terbaru. Tak harus mewah, tak harus terlihat indah dan artistik.

Aku malu pada Rasul yang hanya tidur di atas tikar kasar tiap harinya, sementara di rumahku tersedia kasur spring bed yang kadang terlalu memanjakan penggunanya sehingga terlambat sholat berjamaah.

Aku malu pada Syekh Ali Ghuraisyah, yang hanya menjadikan krak botol minuman yang ditutup sehelai kain lusuh untuk meja dan kursi tamunya. Sementara di rumahku ada beberapa kursi, meskipun kuno dan bukan sofa, yang cukup enak diduduki.

Aku malu pada Usamah Bin Ladin, yang tak memiliki satu buah furnitur pun di rumah keempat istrinya, sementara untuk amal sosial dengan mudah dia akan mengeluarkan cek senilai ratusan juta dollar.

Mereka bukan orang miskin, tapi mereka adalah orang-orang yang memilih untuk hidup sederhana.

Biarlah kendaraan kami biasa saja, sepeda motor yang sudah cukup berumur dan mobil kuno 1990-an yang sudah berkarat di beberapa sisinya. Asal dengan itu telah mampu membantuku beraktivitas dan menghemat banyak hal dalam perjalanan.

Aku malu pada Rasul dan Abu Bakar, yang menempuh perjalanan Makkah-Madinah dengan berjalan kaki, padahal mudah bagi beliau untuk meminta diperjalankan oleh Allah dengan Buraq sekalipun.

Aku malu pada Syekh Hasan Al-Banna & Syaikh Umar Tilmisani, yang lebih memilih naik kereta kelas ekonomi untuk berdakwah di seantero Mesir, meski secara finansial sangat mampu untuk naik kereta kelas di atasnya.

Aku malu pada pemuda Taufiq Wa’i, yang tak mau hanya sekedar naik taxi seperti saran bunda Zainab Al-Ghazali, karena khawatir tak mampu menyikapi fasilitas itu dengan benar.

Biarlah kemana-mana aku ingin naik angkutan umum kelas ekonomi, selagi fisik mampu diajak berkompromi. Bukan naik taxi atau kelas eksekutif. Bukan karena sayang mengeluarkan uang, tapi sungguh bersama orang-orang berbagai tipe di kelas ekonomi itu, banyak pelajaran yang dapat kuambil, dan itu mampu melembutkan hati.

Biarlah aku memiliki baju secukupnya saja, tak harus mengikuti model terbaru. Yang penting masih utuh dipakai dan cukup pantas dilihat orang. Aku takut menjadi penganut paham materialis, berburu berbagai koleksi baju, kerudung, tas, alat tulis, perlengkapan elektronik... bukan karena perlu tapi hanya sekedar ingin.

Aku malu pada khalifah kelima, Umar bn Abdul Aziz, yang setelah menjadi khalifah justru memilih jenis pakaian yang paling kasar dan paling murah pada pedagang yang sama, hingga membat takjub si pedagang karena sebelumnya sang Umar adalah seorang yang sangat memperhatikan penampilan.


Aku bahagia, saat melihat pak NN dengan istri dan ke-6 anaknya yang kecil-kecil dapat berteduh di salah satu rumah kami tanpa bayar sejak 8 tahun lalu. Jujur, melihat kehidupan perekonomian mereka yang makin membaik, kadang tergoda untuk mulai menerapkan prinsip ’profesional’ dengan perjanjian sewa.

Tapi, Astaghfirul-Lah.. kembali kutepis keinginan itu. Mungkin, justru lewat wasilah doa-doa tulus pak NN-lah, Allah selalu memberikan rezki yang berlebih padaku dan keluarga. Ya Rabb, biarkanlah rumah itu menjadi ladang amal pintu pembuka rahmatMu bagi kami.

Aku bahagia, meski piutang-piutang kami untuk berbagai keperluan pada beberapa orang tak kunjung terbayarkan sampai berbilang tahun bahkan berpuluh tahun. Aku pun tak ingat lagi persis jumlah nominalnya. Aku percaya, mereka semua bukan tak mau membayar, tapi belum mampu membayar.

Tentu mereka malu untuk tiap waktu hanya menghubungi lalu mohon maaf dan meminta penangguhan waktu pembayaran. Mereka juga manusia, yang memiliki izzah. Biarlah, mungkin mereka butuh waktu. Mungkin Allah sedang mengajarkan arti ikhlas pada kami. Biarlah, kalau memang ternyata sampai nanti pun tak mampu terbayarkan, Allah yang akan menggantinya dengan yang lebih baik. Insya Allah....

Bahkan, mungkin dari mulut-mulut merekalah, teman-teman yangn membutuhkan itu, meluncur doa-doa ikhlas untuk kami sekeluarga, yang langsung didengar Allah di Arsy sana, hingga Allah berikan kemudahan rizki pada kami.

Aku ingat, salah seorang teman yang sudah cukup lama berhutang sekian juta, demi mengetahui bahwa aku akan menunaikan ibadah haji beberapa tahun lalu, dia mengirim sms: "Semoga hajimu mabrur ya Ning. Jangan lupa aku titip doa, doakan aku agar semua masalahku terangkat, kehidupanku menjadi lebih baik, dan aku dapat segera menunaikan kewajibanku pada kalian yang sudah tertunda sekian tahun.

Aku malu sebetulnya bicara begini. Tapi aku tahu, kalian bisa menerima dengan lapang".
Hiks, sungguh aku terharu dan menetes air mataku membaca sms itu.

Ya Allah, Alhamdulillah
telah Kau berikan rizki padaku dan keluargaku, lebih dari yang kami butuhkan.
telah Kau karuniai aku dengan suami sholeh, yang selalu mengingatkanku tentang amanah harta dan anak.
telah Kau anugerahi aku anak-anak soleh solehah yang mampu menjadi penyejuk hati.
telah Kau berikan padaku ilmu yang mempermudahkanku menjemput rizkiMu

Ya Allah, mudahkanlah kami untuk selalu berbagi, melalui rizki yang Kau titipkan pada kami.

Hindarkan dari hati kami orientasi selalu mencari keuntungan duniawi.
Ijinkan dan biarkanlah sebanyak mungkin orang dapat ikut menikmati rizki ini.
Kami ingin setiap rupiah yang mengalir lewat tangan kami, juga bermanfaat untuk saudara-saudara kami.

Sayup-sayup, kudengar refrain nasyid Antara Dua Cinta-nya Raihan

Tuhan, leraikanlah dunia
yang mendiam di dalam hatiku
karena disitu tidak ku mampu
mengumpul dua cinta
Hanya cintaMu, kuharap tumbuh
diibajai bangkai dunia yang kubunuh ...


http://www.eramuslim.com/oase-iman/mukti-amini-aku-ingin-jafi-orang-biasa-yang-sederhana.htm

Rabu, April 14, 2010

sabar MRIOO

Rasanya bulan ini merupakan bulan yang cukup berat bagi diri. Perkuliahan yang semakin padat membuat diri merasakan sedikit kelelahan. Tidak hanya kelelahan fisik, tetapi juga pikiran. Kepala seperti rasanya mau pecah... Ternyata begitu banyak yang diri harus pikirkan.. dan itu pun baru terpikirkan sekarang....
Hal yang juga cukup memusingkan mengatur keuangan, benar-benar sekarat...

Yahhh semangat selalu dan bersabarlah MRIOO!!!


Selasa, April 13, 2010

"Aku Menangis untuk Adikku enam Kali"

"Aku Menangis untuk Adikku enam Kali" *

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. "Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!" Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi." Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang." Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!" Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?" Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..." Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.." Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti.
Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini." Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?" Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!" "Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku." Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

( Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six times")


* (Tulisan ini dikirim oleh seorang teman via email. Tulisan yg mungkin bagi kebanyakan kita sudah sering kita baca di internet/email tapi tentu masih ada nilai terindah dlm cerita ini. Bagi yg baru pertama kali membaca, yakinlah cerita ini ada nilai-nilai yg menyegarkan hati dan rasa kemanusian kita. Nilora)


Minggu, April 11, 2010

23 tahun cepat juga y???

hampir 100 notification masuk ke wall situs jejaring sosial diri..... dan 5 sms melalui hp......
yahh hari ini tepat diri berusia 23tahun. Ada beberapa hal yang patut diri koreksi untuk menjadi lebih baik. Dan dari beberapa hal tersebut diantaranya merupakan hal yang prinsipal yang harus diri ubah untuk menjadi jauh jauh jauh lebih dari sebelumnya. Berat memang hal itu... tapi sebuah usaha keras akan diri coba.

yah usaha keras mulai dari sekarang, mulai dari yang kecil, mulai dengan bismillah...

Jumat, April 09, 2010

Cintaa....

Kata cinta, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merupakan wakil dari perasaan kasih, sayang, atau rindu yang sangat dalam. Namun dalam konteks atau kadar kalimat tertentu, ia bisa juga mewakili perasaan sedih.

Cinta adalah salah satu sumber kekuatan unik dalam diri manusia. Ia menjadi tenaga penggerak hati dan jiwa yang akan menghasilkan sikap, perbuatan dan perilaku. Cinta bisa seperti yang terurai dalam sebait sajak dari film laris indonesia, Ketika Cinta Bertasbih:

Cinta adalah kekuatan yg mampu
mengubah duri jadi mawar
mengubah cuka jadi anggur
mengubah sedih jadi riang
mengubah amarah jadi ramah
mengubah musibah jadi muhibah.

Namun demikian, cinta pun bisa menghasilkan perubahan yang sebaliknya: mengubah mawar menjadi duri, dan seterusnya.

Hal yang demikian bisa terjadi karena cinta bersemayam di dalam hati yang bersifat labil. Seperti sabda Rasulullah saw. hati itu bersifat gampang terbolak-balik bagaikan bulu yang terombang-ambing oleh angin yang berputar-putar. Sebagaimana amal-amal dan perilaku kita yang senantiasa bersumber dari niat dan motivasi di dalam hati, maka cinta pun bisa mewujud dengan dasar niat yang beraneka rupa. Ada cinta yang tulus, penuh kerelaan. Namun ada pula cinta yang penuh duri dan racun. Ada cinta yang merupakan buah keimanan dan ketaqwaan. Namun ada pula cinta yang berlandaskan nafsu hina.

Bagi seorang muslim dan beriman, cnta terbesar dan cinta hakiki ialah cinta kepada Allah. Bentuk cinta dapat kita wujudkan dalam berbagai rupa tanpa batas ruang dan waktu dan kepada siapa atau apa saja asalkan semuanya bersumber dari kecintaan kita kepada Allah dan karena menggapai ridha-Nya.

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (Al-Baqarah: 165)

Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (ikutilah Muhammad saw.), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. (Ali Imran: 31)

“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. At Tirmidzi)

Kata-kata mutiara tentang cinta

Agar cinta tidak menjerumuskan kita ke dalam lubang kehinaan, ada baiknya kita mengambil hikmah dari sumber-sumber islam dan perkataan para ulama berikut ini.

Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.

Hamka

Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.

Hamka

Tanda cinta kepada Allah adalah banyak mengingat (menyebut) Nya, karena tidaklah engkau menyukai sesuatu kecuali engkau akan banyak mengingatnya.

Ar Rabi’ bin Anas (Jami’ al ulum wal Hikam, Ibnu Rajab)

Aku tertawa (heran) kepada orang yang mengejar-ngejar (cinta) dunia padahal kematian terus mengincarnya, dan kepada orang yang melalaikan kematian padahal maut tak pernah lalai terhadapnya, dan kepada orang yang tertawa lebar sepenuh mulutnya padahal tidak tahu apakah Tuhannya ridha atau murka terhadapnya.

Salman al Farisi (Az Zuhd, Imam Ahmad)

Sesungguhnya apabila badan sakit maka makan dan minum sulit untuk tertelan, istirahat dan tidur juga tidak nyaman. Demikian pula hati apabila telah terbelenggu dengan cinta dunia maka nasehat susah untuk memasukinya.

Malik bin Dinar (Hilyatul Auliyaa’)

Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu.

Ali bin Abi Thalib

Engkau berbuat durhaka kepada Allah, padahal engkau mengaku cinta kepada-Nya? Sungguh aneh keadaan seperti ini. Andai kecintaanmu itu tulus, tentu engkau akan taat kepada-Nya. Karena sesungguhnya, orang yang mencintai itu tentu selalu taat kepada yang ia cintai.

A’idh Al-Qorni

Demikianlah beberapa kutipan dari sedikit tokoh-tokoh islam yang semoga bisa kita ambil hikmahnya. Semoga Allah memudahkan saya untuk menambah koleksi ini dan memberikan manfaat kepada pembacanya.

http://blog.al-habib.info/id/kata-mutiara-islami-tentang-cinta/


Kau dan Aku, Aktivis?

Aku memang bukan siapa-siapa..

Aku hanyalah seorang mantan 'aktivis' !

Ya, mungkin itu lebih baik sebutan untukku..

Aku tahu aku melakukan kesalahan..

Aku tahu kau pun tahu masalahku..

Karena aku tlah menceritakan semuanya padamu..

Kau ada di saat aku memerlukanmu tuk berbagi cerita..

Itu dulu..

Ya, itu dulu..

Tapi sekarang,, dimana kamu?

Dimana kamu saat aku mulai menjauh?

Menjauh dari kehidupan dulu..

Kehidupan penuh lika liku..

Berda'wah bersama kalian, bersamamu..

Dimana kamu saat aku tak lagi berada dalam barisan itu?

Barisan yang tlah membuatku belajar banyak hal..

Tak pantaskah aku bersama kalian saat ini?

Ya, memang tak pantas rasanya buat seorang mantan 'aktivis' sepertiku..

Aktivis yang tlah menodai jalan da'wah ini..

Jalan da'wah yang suci ini..

Jalan da'wah yang tak pantas dilalui oleh seorang pendosa sepertiku..

Tapi, apakah tak ada kesempatan tuk memperbaiki smuanya?

Tak adakah ruang untukku di barisan itu lagi?

Tak adakah??

Atau bahkan tak adakah aku di ruang hatimu?

Andai saja kau tahu..

Bahwa aku teramat rindu dengan masa-masa dulu..

Masa-masa aku berada di barisan itu..

Masa-masa aku berda'wah bersamamu..

Aku kan mengejarmu..

Tunggu aku!

Aku pasti bisa mengejar ketertinggalanku..

Tapi aku butuh kamu..

Tolong ulurkan tanganmu..

Aku ingin kembali seperti dulu..

Sahabat, bukan aku tak mau.. Sungguh! Tak pernah terlintas sedikitpun tuk menjauh darimu.. Tapi apa dayaku? Jika setelah masalah itu, Kau jarang berkumpul dengan kami.. Kau sepertinya sibuk dengan duniamu saat ini..

Hal itulah yang akhirnya membuat jarak antara kita.. Aku sibuk dengan urusanku.. Dan kau sibuk dengan urusanmu.. Sesekali aku coba mendekatimu.. Entah kenapa ada yang berbeda.. Tak seperti dulu.. Ada jarak antara kita.. Jarak yang sepertinya cukup jauh tuk melampauinya.. Ku coba tuk bersikap biasa.. Namun tak bisa.. Sesekali aku pernah melihatmu.. Melihatmu dengan orang baru dalam hidupmu kini.

Orang baru yang tlah menjebakmu dalam masalah.. Dan menjauhkan kita.. Hatiku menjerit.. Mungkin memang tak sering aku mengingatkanmu akan masalahmu yang satu itu.. Tapi,,sepertinya kau seolah acuh.. Bahkan kau menuntut perhatian dariku.. Ya, memang kusadari, tak banyak waktuku untuk memberi perhatian padamu..

Tapi, jika kau menuntut perhatian dariku.. Aku tak bisa memberikan lebih dari yang aku lakukan saat ini.. Karena aku memang egois.. Egois karena seolah aku tlah meninggalkanmu.. Meninggalkanmu dengan masalah yang tlah kau ceritakan padaku.. Meninggalkanmu dengan orang yang menjebakmu dalam masalah..

Aku egois karena tlah tahu masalahmu.. Namun tak bisa memberi solusi padamu.. Aku yakin kau bisa mengejar kami semampumu.. Tanganku akan terus kuulurkan untukmu.. Hingga akhirnya kau bisa meraih tanganku.. Dan kita bisa bersama kembali..

perempuanlangitbiru.multiply.com/

nb: sedikit sama dengan kisahku...




Jumat, April 02, 2010

letme still alone

Beberapa hari ini terus terasa, yahh...walaupun cara itu bisa mengurangi 'nya', tapi yakin suatu saat nanti pasti akan terasa lebih sakit..
hahaha............
Tertawa...
hanya itu cara yang bisa kubanggakan....
dan itu sudah cukup untuk menahan 'nya'....

Ahh..sudahlah.... buat apa kubahas hal ini..
lagian kan tetap dijalani sendiri....
and...
let me still alone....

Kamis, Maret 04, 2010

>>> kau ditakdirkan untuk sendiri bung!!! nikmatilah...<<<©

Perjalanan panjang itu pun masih berlanjut....
Tenang....
Aku sudah siap untuk menjalaninya....
Sudah siap untuk yang kesekian kalinya....
Ya.... Akan selalu siap....

Perjalanan panjang itu pun belum juga menemukan titik terang....
Suram....
Aku sudah terbiasa menjalani kesuraman ini....
Sudah membiasakan diri untuk kesekian kalinya....
Ya.... InsyaALLAH nanti aku akan menemukan cahaya itu....

Kenikmatan ini sudah biasa dilalui....
Nikmat memang.....
Aku tak harus pusing untuk menjalani kenikmatan ini....
Sudah dijalani koq....
Ya.... Sambil berdo'a "Ya Rabb jangan biarkan hamba sendiri...."


nb : Mrioo berjuanglah!!!

Selasa, Maret 02, 2010

Full Time Mother

Dia seorang wanita cerdas, terlahir di keluarga berada, lulusan sebuah perguruan tinggi ternama di Bandung dan memiliki kemampuan di atas perempuan biasa.

Semangatnya tinggi untuk belajar, dan itu dia buktikan ketika dia harus menemani sang suami menyelesaikan doktornya di Jerman.

Dalam waktu setahun, ia mampu menguasai bahasa Jerman, sehingga hampir semua urusan bank, asuransi kesehatan, urusan dengan imigrasi ataupun urusan sehari-hari yang memerlukan penguasaan bahasa Jerman dapat ia selesaikan sendiri tanpa harus merepotkan sang suami.

Alhamdulillah dengan dukungan isterinya tersebut, sang suami mampu menyelesaikan program doktornya tepat pada waktunya 3 tahun, walaupun umumnya banyak kasus perpanjangan karena beratnya syarat kelulusan doktor. Perannya sebagai seorang isteri yang mampu mensupport suami tidaklah diragukan.

Dia, sebutlah namanya Tari adalah seorang isteri dan ibu yang mandiri. Tetapi bukan hanya itu, yang membuatnya berbeda adalah dia seorang full time mother dan dia bangga dengan hal itu.

Dia mengabdikan hidupnya di rumah sebagai manajer rumah tangga, merawat anak-anaknya sendiri, mengerjakan urusan rumahnya sendiri, tanpa memanjakan diri dengan bantuan seorang asisten rumah tangga/pembantu.

Sepulang dari Jerman pun, dia tetap melakukan hal yang sama di Bandung. Suatu hal yang lumrah terkadang di luar negeri bila kita melakukan semuanya sendiri karena fasilitas asisten RT sungguh merupakan barang mewah.

Tetapi di Indonesia, adalah hal yang umum para ibu-ibu yang bekerja atau bahkan tidak bekerja di luar, tetap menggunakan fasilitas asisten RT. Setiap pulang berkunjung dari rumahnya, saya bisa melihat betapa Tari sangat bahagia berada dekat dengan anak-anaknya setiap detik, jam dan hari.

Dia lah madrasah anak-anaknya, tanpa memanggil guru les atau sebagainya, Tari mampu mendidik anak-anaknya melebihi anak-anak normal seusianya. Dengan pendidikan dini yang dia terapkan sejak awal, anaknya tumbuh cerdas dan penuh tercurahkan kasih sayangnya.

Ya, itulah Tari adikku, seorang wanita cerdas berpotensi besar tetapi lebih memilih mencurahkan potensinya untuk membangun surga di rumahnya, menjadi madrasah untuk anak-anaknya.

Sepulang menginap dari rumah Tari, tantenya, anak-anak saya biasanya langsung heboh memberikan laporan singkat ke ummi dan abi mereka. ”Tante Tari bikin ini sendiri lho, trus kita bikin itu, trus sebelum tidur kita diceritain cerita ini, cerita itu tetapi syaratnya harus menyetor hapalan surat-surat al-Quran dan membaca Iqra dulu”.

Kemudian disambung lagi dengan kalimat, ”Shofi (umur 5 tahun) dah iqra enam lho, Mi, bentar lagi al-Quran. Teteh (umur 6 tahun) kalah deh, masih iqra 5.” Adiknya pun tidak mau kalah menambahkan, ”Tante Tari hebat yah mi, pinter masak. Trus kita main ini, kita bikin kartu, kita bikin itu bla, bla, bla” Saya hanya tersenyum simpul sambil melirik abi mereka.

Saya sudah dapat membayangkan seabrek aktivitas menyenangkan yang mereka lakukan di rumah sepupunya. Mulai dari menggambar, mewarnai sampai mengguntingnya menjadi kartu cantik, ataupun permainan-permainan kreatif lain.

Rumah Tari memang penuh dengan semua fasilitas permainan dari arena panjat, perosotan dan sebagainyanya yang membuatnya merasa nyaman memberikan kesempatan bagi anak-anaknya bereksplorasi dan bermain sepuasnya sehingga belajar sambil bermain di rumah menjadi tidak membosankan.

Tari memang guru yang cerdas dan punya seabrek ide kreatif. Sungguh saya salut dengan keseriusannya dalam mendidik anak-anak. Dengan menjadi ibu full time toh tidak meluruhkan seluruh ilmu yang ia timba di universitas, bahkan dengan fasilitas internet dan laptop pribadinya, Tari bisa selalu up to date dan terus menambah wawasan dirinya.

Walaupun banyak orang di sekelilingnya kerap menyayangkan keputusan Tari untuk menjadi full time mother, mendesaknya untuk mengambil S2, untuk bekerja di luar dan sebagainya, tetapi Tari tetap bangga dan yakin dengan pilihannya.

Full time mother, suatu cita-cita yang pernah menjadi impian saya dan sampai saat ini pun saya masih terus mengimpikannya. Alhamdulillah saya sempat menikmati menjadi full time mother walau hanya setahun selepas kelulusan master dan kelahiran anak kedua. Dikelilingi anak-anak dan suami, memanage urusan rumah, beraktivitas dengan anak-anak di setiap berputarnya waktu, bermain di taman, refreshing ke jidoukan (taman bacaan anak-anak), merupakan saat-saat yang paling membahagiakan.

Keharusan untuk meninggalkan baju kebesaran itu, sungguh pilihan yang tidak mudah. Walau saya tahu, saya harus meniatkan jalan ini sebagai jihad, tetapi harus saya akui waktu-waktu yang terlewatkan dengan anak-anak, hari demi hari semakin bertambah.

Hitunglah secara matematis simpel saja, berapa jam seorang wanita seperti saya berada di rumah? Pergi dari rumah jam 7, mulai jam 8 sampai jam 4 saya di kantor, jam 5 saya baru sampai di rumah, baru bisa berinteraksi dengan mereka.

Jam delapan malam mereka sudah siap untuk tidur, setelah 'ritual' membaca Iqra atau buku dan hapalan surat-surat pendek, yang terkadang 'ritual' itu mulai sering didiskon karena kepenatan dan keletihan saya. Pagi bangun tidur hanya sekitar 1-2 jam saya menyiapkan mereka dari bangun, mandi dan sarapan bersama sebelum si teteh pergi ke sekolah dan adiknya di rumah.

Jadi interaksi seorang wanita yang bekerja seperti saya, sehari hanya mampu menghabiskan waktu bersama anak-anaknya sekitar 4–5 jam sehari. Belum dengan tambahan pengurangan apabila ada lembur, dinas luar kota atau dinas ke luar negeri. So, anda bisa hitung sendiri kira-kira berapa waktu anda yang hilang.

Suatu alasan klise yang mengatakan, kualitas lebih penting daripada kuantitas. Sebuah excuse yang kerap dilontarkan oleh seorang ibu wanita pekerja. Come on, Akuilah, kuantitas pun sama pentingnya, semakin banyak kuantitas semakin erat hubungan seorang anak dengan orang tuanya, kedekatan emosi, dan limpahan kasih sayang.

Hampir bisa dikatakan, kualitas berbanding lurus dengan kualitas. Terus terang, saya lebih merasa bahagia dan bangga melihat anak tumbuh dan mampu melakukan sesuatu (dia mampu berjalan, lulus toilet training-nya atau bisa mengucapkan kata-kata pertamanya) dibandingkan prestasi pribadi atau kebanggaan akan sebutan lady engineer yang melalang buana ke negara-negara luar.

Di zaman Rasulullah, banyak sekali atau bahkan hampir semua adalah full time mother, mereka tetap dapat beraktivitas dan berperan serta dalam ber-home industri, berdakwah atau menuntut ilmu.

Menjadi full time mother tidaklah hal yang mudah, saya yakin sekali hanya wanita-wanita tangguh, mungkin seperti anda atau ibu anda yang mampu melakukannya. Bila kebanyakan orang bercita-cita untuk membina karirnya di luar, saya yakin masih ada segelintir wanita-wanita tangguh dan cerdas yang bangga menjadi seorang full time mother.

Alhamdulillah, sekalipun saya melihat adanya kecenderungan banyak sekali wanita-wanita yang berlomba-lomba mencari kerja dan membina karir, tetapi masih ada wanita yang merasa bahwa saat ini, ketika anak-anak membutuhkan, tempat mereka adalah di rumah menemani dan mendampingi anak-anak mereka.

Semoga masih banyak Tari Tari yang lain, yang mengingatkan kita semua akan tugas utama kita.

My appreciation for every full time mother.
Memoir, March 07

(Ummu Zahrah)

http://eramuslim.com/oase-iman/full-time-mother.htm

nb : rumah adalah madrasah terbaik bagi setiap orang... dan orang tua adalah guru yang terbaik..... "setitis do'a tuk mencapai keridhaan generasi penerus yang kokoh, tangguh, berakhlak mulia, dan tentunya berkeyakinan yang teguh....AMIN..."


Ibu Jangan Kerja

“Ibu jangan kerja,” suara Naufal terdengar parau, dia baru bangun tidur. Aku yang tengah memasang jilbab menoleh ke arahnya.

“Ibu kerja sebentar kok, Naufal di rumah sama ayah ya,” pintaku seraya menghampirinya.

Kebetulan hari ini suamiku libur, jadi kupikir dia bisa lebih tenang dari biasanya. Dia menggelengkan kepala, kulihat wajahnya mulai merebak tanda akan menangis.

Hampir tiap hari aku harus membujuknya agar dia tidak menangis ketika melepasku berangkat kerja. Sebenarnya aku kasihan melihat dia menangis setiap kali kutinggal berangkat kerja.

Jujur, jauh dihati kecilku, aku ingin semua waktuku kuberikan pada anak semata wayangku ini. Aku ingin terus berada di samping dia, menemaninya sepanjang hari.

Tapi keadaan mengharuskan aku bekerja, karena tidak mungkin kami hanya mengandalkan gaji suamiku yang hanya seorang guru honorer.

Walaupun aku hanya bekerja di perusahaan kecil, setidaknya gajiku bisa membantu mencukupi kebutuhan kami bertiga dan biaya sekolah Naufal kelak.

Untuk menemani Naufalpun kami tidak memakai pengasuh, kami kerja bergantian karena kebetulan aku bekerja shift.

“Ibu jangan kerja,” suara Naufal kembali terdengar, kali ini diiringi isak tangis. Bocah empat tahun itu mulai menarik-narik tanganku.

“Sayang, kalau ibu nggak kerja, nanti nggak bisa belikan susu buat Naufal, nggak bisa belikan mainan buat Naufal. Gimana dong?” aku coba memberi pengertian kepadanya.

“Apalagi Naufal kan udah mau sekolah, masa tiap ibu berangkat kerja pasti nangis,” sambungku lagi sambil mengelus-elus kepalanya.

“Pokoknya ibu jangan kerja,” kali ini suara Naufal hampir tak terdengar karena kalah dengan suara tangisnya.

“Main sepeda sama ayah yuk,” kali ini giliran suamiku membujuknya. Biasanya kalau dia sedang ngambek, kalau diajak main sepeda jadi terhibur.

Kulirik jarum jam di dinding menujukkan pukul setengah tujuh pagi, aku masih memiliki waktu sepuluh menit untuk menenangkannya.

“Nggak mau!” Naufal mulai berteriak, dan tangisnyapun semakin keras. Kali ini dia mulai menjejakkan kakinya ke lantai berkali-kali, kebiasaan dia kalau sedang marah.

“Nanti ibu belikan coklat ya, atau es krim?” tawarku coba menghentikan tangisnya sambil memeluknya.

Lagi-lagi Naufal menggeleng dan tangisnya tidak juga berhenti, malah semakin keras. Air matanya membasahi seragam yang kupakai.

“Ayo antar ibu kerja,” ajak suamiku sambil menggandeng tangannya. Tapi Naufal tetap menangis, dia tidak mau lepas dari pelukanku.

Kali ini aku mulai gelisah, kulirik kembali jarum jam di dinding. Hampir mendekati pukul tujuh pagi, aku harus segera berangkat. Tidak enak kalau sering terlambat, teman yang akan kugantikan shift jaga pasti sudah menunggu dengan gelisah.

“Naufal mau antar ibu?” tawarku sambil melepaskan pelukannya.

“Nggak mau!”dia berteriak sambil menangis bergulung di lantai.

Kesabaranku mulai hilang, terlebih aku sudah tidak punya waktu lagi untuk menenangkannya.

“Biar aku berangkat sendiri,” kataku kepada suamiku.

Sambil mengucap salam kuraih helm di atas meja. Kutinggalkan Naufal, tak kuhiraukan lagi tangisannya. Kulambaikan tangan kearahnya sambil cepat berlalu.

“Maafkan ibu, sayang," bisikku dalam hati.

Di kantor, suara tangis Naufal terus terngiang di telingaku membuat aku tidak tenang bekerja dan ingin segera pulang.

“Ibu jangan kerja,” kalimat itu terus terekam dalam benakku. Aku merasa bersalah tidak bisa memenuhi permintaan Naufal.

Waktu seakan lambat berputar, tidak secepat ketika aku sibuk menenangkan Naufal tadi pagi.

* * *

Tiba waktu pulang, aku bergegas menuju tempat parkir. Mendung terlihat menggantung di langit. Aku harus segera pulang, apalagi Naufal pasti sudah menunggu.

Lima belas menit kemudian aku tiba di rumah.

“Assalamu`alaikum,” aku mengucap salam sambil membuka pintu.

“Wa`alaikum salam,” jawab Naufal dan suamiku bersamaan.

“Ibu,” teriak Naufal sambil menghambur kearahku seakan lama tak berjumpa. Sambil memeluknya aku meyodorkan bungkusan plastik berisi es krim yang kubeli tadi.

“Makasih bu," serunya kegirangan. Selanjutnya dia telah asyik menikmati es krimnya.

Aku dan suamiku tersenyum melihat tingkahnya.

“Naufal senang ya dibelikan es krim?” tanya suamiku meledek.

Dia cuma mengangguk karena mulutnya penuh dengan es krim, “Besok mau dibelikan lagi?” aku ikut bertanya.

Kembali dia mengangguk.

“Besok ibu belikan lagi, tapi Naufal janji nggak nangis kalau ibu berangkat kerja ya?” pintaku sambil terus memandanginya.

Kulihat wajah Naufal jadi sedih. Kemudian dia mulai buka suara.

“Naufal nggak usah dibelikan es krim aja, tapi ibu jangan kerja,” katanya sambil memandangku penuh harap.

Aku dan suamiku saling berpandangan. Ternyata Naufal memang tidak ingin aku bekerja.

Terbayang dibenakku, besok pasti akan ada tangis dan teriakan darinya.

“Ibu jangan kerja!”

* * *

Spesial buat buah hatiku: Kelak jadilah manusia yang berbudi luhur dan berakhlak mulia. Amien.

((Muhana Dyah Sari))

http://eramuslim.com/oase-iman/ibu-jangan-kerja.htm


nb: hmm...sebuah pengalaman menarik, dan patut untuk dipertimbangkan... terima kasih utk mbak Muhana atas ceritanya... semoga menjadi keluarga Samara..AMIN...

musafir perjuangan.. © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute