Jumat, Februari 26, 2010

Jangan Berat Tuk Tersenyum

Belum genap satu bulan saya dan keluarga tinggal disebuah rumah yang saya kontrak didaerah bekasi utara. Alhamdulillah rumah ini terasa nyaman dengan sirkulasi udara dan cahaya yang cukup. Tiga minggu tinggal disini, Allah telah memberikan sebuah pelajaran berharga bagi saya.

Subuh tadi ketika hendak berangkat berjama’ah ke masjid, tepat di depan rumahku duduk seorang security/hansip yang sedang tugas jaga. Ia duduk seorang diri diatas bangku yang kebetulan memang ada didepan rumahku sambil menghisap sebatang rokok dalam-dalam. Posisinya menghadap tepat kearah pintu rumahku. Saya belum menyadari keberadaanya ketika membuka pintu rumah dan menguncinya kembali untuk saya tinggalkan. Namun ketika saya membuka pintu gerbang, sedikit kaget saya melihatnya. Kemudian kulemparkan senyum kearahnya, namun Pak Hansip ini cuek saja, bahkan wajahnya terlihat masam (sedikit kecewa saya atas sikapnya). Kemudian kulanjutkan langkahku menuju masjid. Karena penasaran sebelum meninggalkan rumah saya coba menyapa Pak Hasip yang belum saya kenal ini “mari pak” basa-basi memang, tapi saya berharap dengan sapaan ini ia akan memberikan sedikit senyuman kepada saya. Ternyata lagi-lagi saya harus kecewa ia hanya menjawab dengan singkat “ya”, masih dengan muka masamnya.

Sebelumnya hari minggu yang lalu hal yang serupa juga saya alami. Saat itu saya sedang menyapu dan mencabuti rumput dihalaman hingga ke sisi jalanan di depan rumah. Jalanan depan rumah saya ada dua jalur dan dibatasi oleh pemisah jalan yang diatasnya ditanami berbagai pepohonan diantaranya pohon palem. Saya mencabuti rumput-rumput yang ada dibawah pembatas tersebut dan rumput-rumput itu saya taruh di pinggiran pohon palem yang saat itu memang sudah banyak rumput liar disekitarnya. Sedangkan sampah lain saya kumpulkan dan saya buang ditempat sampah saya. Namun tiba-tiba seorang bapak datang kearahku dan tanpa menyapa apapun langsung memungut rumput-rumput tadi dan melemparnya ketumpukan sampahku sambil berteriak “Ini jangan dibuang disini mas, capek-capek saya ngerapiin dari ujung sana”. Saya segera meminta ma’af: “oohh, ma’af pak saya tidak tau, nanti saya rapihkan”. Kemudian ia berlalu begitu saja.

Dua kejadian tadi meninggalkan beberapa pertanyaan dalam hati saya. “Mengapa mereka bersikap demikian?” “Beratkah untuk membalas senyuman? Tidak adakah cara lain yang lebih santun untuk menyapa/menegur? Atau mereka menganggap karena saya orang baru disini?" Padahal dengan iktikad baik sejak kepindahan keluarga saya kesini, saya segera lapor ke ketua RT. Bahkan ketika pak RT menyampaikan bahwa untuk keluarga yang mengontrak, iuran bulanan (sampah dan keamanan) harus dibayar 6 bulan sekaligus sayapun menyetujuinya, karena ini sudah menjadi aturan disini. Dan sebagai pendatang saya harus mengikuti aturan yang ada.

Tentunya bukanlah semata karena saya orang baru disini, tapi mungkin saat itu Allah belum memberikan kelembutan hati kepada kedua Bapak tadi. Saya pun tak berfikir macam-macam terhadap keduanya. Bahkan dalam kasus yang kedua, sore harinya ketika bertemu Bapak itu saya langsung memberikan senyuman, dan Alhamdulillah Bapak itupun tersenyum. Dan besok pagi jika saya bertemu Pak Hansip itu saya pun akan tersenyum lagi, tak perduli Pak Hansip itu membalasnya atau tidak. Bukankah senyum itupun bagian dari ibadah bahkan termasuk sedekah.

Dalam sebuah hadits dikatakan: “Janganlah kalian menganggap remeh kebaikan itu, walaupun itu hanya bermuka cerah (senyum) pada orang lain,” (HR. Muslim) dan juga saya teringat sebuah Hadits "Tabassumu fi akhika shadaqoh" yang artinya senyum untuk saudaramu adalah Sedekah. Jadi, saya akan tetap tersenyum.

Feb'10

Oleh Gus Ron

http://eramuslim.com/oase-iman/gus-ron-jangan-berat-tuk-tersenyum.htm

Kamis, Februari 25, 2010

Rengekan Yang Membosankan

“Mas, hari ini pulang jam berapa? Dinda minta dijemput ya, dan setelah itu kita ke Giant beli semua keperluan mingguan, ya Mas?” demikian rajuk Dinda pada suaminya yang hanya mengangguk-angguk dibalik handphone. “ Mas, jawab dong, kok diam saja sich”.

“Mas, tahu gak siapa yang ambil minyak wangi Dinda, aduh, kan ada 3 set kecil, kok hilang 2 sich, Mas lihat gak? Apa Mas pindah pindahin, aduh, Mas, kalau mindahin apa-apa bilang dong, Dinda kan jadi repot nih. Mas! bentak Dinda sengit, Mas dengar gak sich, Dinda ngomong apa? Mas kok gitu sich, orang ngomong dicuekin ukhg” rungut Dinda kesal.

Mas, Mas, Mas tahu tidak kawan lamaku yang namanya Irma, dia sekarang hebat banget lho Mas, sudah punya anak lima tapi badannya masih langsing, katanya sich perawatan macam-macam, tapi heran juga ya Mas, kok punya istri secantik Irma, suaminya masih selingkuh juga. Menurut Mas apa suami yang selingkuh itu karena mereka gak tahu bahwa istrinya sudah berjuang sekuat tenaga mengurus anak, mengurus tubuh dan semua itu kan dilakukan untuk suaminya. Menurut Mas, bila suaminya Irma, bla bla bla, tanpa memperdulikan bahwa Mas Ari masih lelah dan baru saja duduk di kursi tamu sepulang dari kantor. Dinda terus saja nyerocos walau tangannya yang lincah tetap mengaduk teh hangat untuk suaminya. Ketika tersadar, Dinda melihat suaminya sudah setengah tertidur dengan kepala mendongak dan dasi yang terlepas dari kemejanya.

“Subhanalloh Mas, Mas Ari kok gitu sich, baru pulang kantor langsung tertidur, mandi dulu Mas, ganti bajunya, capek kan dan berkeringat, demikian jerit kecil Dinda yang sontak membangunkan Mas Ary. Tanpa berkata apa-apa, Mas Ari segera ngeloyor ke kamar mandi dan menikmati guyuran demi guyuran air yang terasa begitu nikmat pada sore itu, yang mana suara istrinya sudah tak terdengar lagi dan yang ada hanyalah kesegaran sesaat. Kemudian digantikan dengan pekikan baru dari Dinda, yang mendapati suaminya keluar dari kamar mandi dengan kaki becek dan membasahi karpet ruang tengah dan itupun tak cukup dengan omelan kecil Dinda yang mendapati teh hangatnya tidak disentuh sedikitpun, serta kue bolu coklat yang Dinda siapkan dari siang hari tergelatak begitu saja dirubung semut. Sementara Mas Ari hanya duduk diam di kursi ruang tengah sambil menonton berita mengenai “Pembebasan Bibit Chandra yang dinyatakan belum terbukti bersalah,” dan lagi-lagi pekikan melenting dari Dinda yang mengajak Mas Ari makan malam, membuat Ari semakin menyadari betapa pulang ke rumah malah membuat dirinya menjadi tidak dapat beristirahat karena tidak adanya ketenangan dan kebebasan dalam beristirahat dan melakukan kegiatan yang disukai, walau menonton berita sore sekalipun.

Kali lain Dinda terus membuat rengekan-rengekan yang pada awalnya disukai Mas Ari, tapi hal itu tak lama, karena rengekan-rengekan manja yang terdengar seperti ketidakberdayaan dari seorang wanita bernama Dinda. Sewaktu pacaran dulu terdengar menyenangkan, ditambah lagi dengan suara yang nampaknya mendayu dayu, menggemaskan dan membuat mas Ari seperti sangat dibutuhkan. Rengekan itu tidak begitu mengganggu, namun ketika kesibukan Mas Ari semakin banyak dan waktu seakan sangat kurang buat mencukupi seluruh keinginan sang istri, Maka rengekan manja itu malah membuat suaminya menjadi lelah dan kesal. Apalagi terkadang rengekan itu disampaikan dengan wajah cemberut, berbau tuduhan dan penuh bumbu yang berlebihan, sehingga hal ini lambat laun menimbulkan kebosanan dan kejenuhan pada Mas Ari, yang bila dibiarkan akan membuat Mas Ari merasa malas berada di dekat Dinda.

Bila rengekan dan semua keluh kesah Dinda disampaikan pada saat yang tidak tepat, seperti suami baru pulang kerja, atau suami sedang menghadapi masalah yang sangat pelik, atau mungkin juga dikala suami sedang sangat lelah, Maka sebagai seorang istri Dinda harus pandai untuk menjadikan rengekan itu sebagai sesuatu kekuatan bagi sang suami untuk melindungi bukan sebagai suatu beban, yang bila diteruskan, Maka rengekan yang mebosankan itu akan membuat para suami merasa tidak nyaman di rumah, dan naudzubillahimin dzalika, akan membuat para suami mencari kenyaman diluar, dan ketahuilah bahwa hal itu: sangat, berbahaya, saudara-saudara”

Fifi (Syaffiyah)

http://eramuslim.com/wanita-bicara/rengekan-yang-membosankan.htm

nb: hanya ingin berbagi saja..... untuk dimengerti....


23 Pebruari 2010

Ternyata apa yang dikhawatirkan selama ini terjadi juga. Keadaan lama yang dulu pernah dirasa, sekarang terasa lagi, dan tak tanggung-tanggung hal itu terjadi pada waktu yang sangat tidak diinginkan. Kondisi yang memburuk seperti ketika kuliah di Palembang dan ketika di Belitung terulang. Parahnya lagi kondisi sekarang tidak bisa diajak main-main. Klinik kampus pun tak mampu menampungnya, hingga RS Dr. Suyoto pun terpaksa harus turun tangan.

Alhamdulillah semua kembali seperti sedia kala, walaupun masih merasakan sedikit nyeri. Alhamdulillah pun tidak harus diinapkan di Suyoto. Bayangkan saja jika sampai harus menginap, apa yang akan terjadi... Ujian tengah semester ganjil sudah menunggu senin depan.

Banyak hal yang dapat dipetik dari kejadian 23 Pebruari 2010 ini,
pertama : gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, nikmat sehat itu akan terasa ketika nikmat itu pun diambil dari kita....astagfirullah.....
kedua : mengingat status yang di pasang di jejaring sosial, ternyata diriku tak ditakdirkan sendiri... ^__^ .... sahabat.... yah mereka....,,,
ketiga : banyak-banyak minum air putih!!!!

semoga kejadian ini tidak terulang lagi...

special thanks tuk sobat : Teguh, Mas Bibit, Iwan 'Kendhie', n Pak Thomas.... semoga ALLAH selalu menganugrahkan keselamatan, rahmat, dan keberkahan tuk sobat.... Aminn Ya Rabb...
Oh ya Tuk Pak Kasman juga sudah mau membawakan tas saya..... Syukran jzk...
n rekan-rekan kampus semua.... terima kasih atas perhatiannya...



Sabtu, Februari 13, 2010

Queue…, Please..!!!

Mengapa budaya antri menjadi hal yang “luar biasa” di negeri kita? Apa memang cerita tentang bangsa kita yang katanya ramah tamah dan berbudi luhur itu cuma isapan jempol belaka?
Berikut peristiwa menyebalkan yang kerap kali saya alami, antrian diserobot orang lain…!

(Cerita Satu) Kala itu bulan Ramadhan, ba’da ashar, saya dan suami sedang berbelanja di sebuah toko swalayan. Setelah semua barang yang saya cari telah masuk keranjang, saya bergegas ke kasir, antriannya tidak begitu panjang, seingat saya ada 4 atau 5 orang di depan saya. Ketika antrian tinggal satu orang lagi, tiba-tiba datang seorang ibu dari arah belakang, langsung menuju ke kasir dan berkata, “Dek, saya cuma beli ini, saya harus buru-buru nih, langsung dihitung ya!” perintahnya sambil menunjuk keranjang belanjanya yang berisi setengah lusin sirup dan sekantong plastik gula.

Kasir mempersilakan ibu itu untuk antri, tapi si ibu tetap ngotot, dia berujar lagi, “Kan cuma ini belanjaannya? Paling satu menit juga selesai dihitung?!” Kasir tetap menyuruh si ibu antri. Si ibu tetap tidak peduli, dia masih terus berusaha memaksa kasir. Saya berujar pelan, “Bu, masa mau motong antrian..? hormati orang lain yang sudah lebih awal ngantri dong…”(dengan nada datar- soalnya sedang shaum, padahal dalam hati dongkol bangeett…)

(Cerita Dua) Di ruang check-in bandara di kota tercinta. Saat itu saya sedang antri untuk mendapatkan boarding pass dan nomor bagasi. Tepat di belakang saya ada seorang bule yang dengan sabar ikut antri. Ketika giliran saya tiba dan petugas sedang melayani, tiba-tiba dari atas bahu kiri dan kanan saya (tanpa ada yang bilang permisi atau maaf)- susul menyusul bermunculan lengan berseliweran meletakkan tiket di meja petugas, minta dilayani duluan. Karena merasa tidak nyaman saya menoleh ke belakang, bule itu tersenyum ke arah saya, sementara tiketnya masih dipegangnya, dia tidak ikut-ikutan mereka yang meletakkan tiket di meja.

Setelah boarding pass saya sudah di tangan, tibalah giliran si bule.., petugas kebingungan memilih tiket yang berserakan di meja, diambilnya acak selembar tiket, bule itu berujar, ”No,no..., this one..”, ia menunjuk ke tiketnya. Petugas meletakkan tiket tadi dan mengambil tiket si bule. Ternyata penyerobotan untuk si bule belum berakhir, ketika beranjak ke meja petugas yang lain disampingnya untuk mengurus bagasi, lagi-lagi antriannnya diserobot seorang pria..., yang jika dilihat dari penampilannya adalah orang berpendidikan. Dengan santun si bule berujar ke pria itu, ”Excuse me..”, tapi si pria sepertinya tidak mendengar (atau pura-pura tidak dengar), maka si bule mengulang lagi, ”Excuse me sir...”, namun tetap tidak digubris, malahan petugas juga tidak peduli, tetap terus melayani pria tadi, sementara si bule kelihatan kecewa. Sambil berlalu saya sempat melihatnya mengeleng-gelengkan kepala sambil tetap berdiri mengantri, mungkin dalam hatinya ia berujar...,what a ”nice” manner, man !!!
Sebagai warga negara, saat itu saya merasa maluuu sekali...:(

Bukan hanya dua cerita itu saja yang membuat saya miris melihat anehnya kebiasaan menyerobot antrian di negri ini. Di ATM dan tempat-tempat pelayanan publik lainnya pun demikian. Di traffic light, penyerobotan antrian sudah menjadi pemandangan lazim, klakson bersahut-sahutan saat lampu kuning berganti ke hijau, apa mereka tidak menyadari, bukankah perlu waktu untuk menginjak pedal gas (untuk kendaraan matic) atau memindahkan tuas gear kendaraan sekitar 2-3 detik (untuk non-matic) ketika lampu telah hijau? Seolah-olah ada yag mengejar mereka dari belakang. Kemudian ditingkahi lagi dengan perilaku menyalip kendaraan lainnya, menyerobot jalur orang lain, hingga berkendara dengan arah yang salah pada jalur searah. Saya pernah membaca, bahwa prilaku berkendara sesungguhnya menunjukkan watak asli si pengendara.., duh !!!

Begitu susahkah mengantri? Sebenarnya tidak, kalau kita menyadari bahwa prilaku menyerobot antrian adalah MENZALIMI orang lain. ZALIM...? Ya...! Karena ada hak orang lain yang kita ambil ketika kita mendahuluinya. Bukankah perilaku antri dan menghargai hak-hak orang lain adalah juga bagian dari syariat Islam? Syariat Islam bukan hanya masalah pakaian dan makanan-minuman saja, tapi juga perilaku...! Mengapa justru di negara-negara yang mayoritas warganya non-muslim, mereka bisa mengantri dengan tertibnya?
Mari kita tegakkan syariah dengan berakhlak santun dan mulia.
So..,queue..., please..!

http://eramuslim.com/oase-iman/queue-please.htm





Rabu, Februari 03, 2010

Ingin cinta yang halal...

Haram-haramkah aku
Bila hatiku jatuh cinta
Tuhan pegangi hatiku
Biar aku tak jadi melanggar
Aku cinta pada dirinya
Cinta pada pandang pertama
Sifat manusia ada padaku
Aku bukan Tuhan

*
Haram-haramkah aku
Bila aku terus menantinya
Biar waktu berakhir
Bumi dan langit berantakan

**
Aku tetap ingin dirinya
Tak mungkin aku berdusta
Hanya Tuhan yang bisa jadikan
Yang tak mungkin menjadi mungkin

Aku hanya ingin cinta yang halal
Di mata dunia juga akhirat
Biar aku sepi aku hampa aku basi
Tuhan sayang aku
Aku hanya ingin cinta yang halal
Dengan dia tentu atas ijinNya
Ketika cinta bertasbih
Tuhan beri aku cinta
Ku menanti cinta...


Begitu indah keinginan itu, hanya sebuah do'a yang ingin diri ini panjatkan kehadiratNYA.
sebuah perjalanan panjang untuk dapat meraihnya...
musafir perjuangan.. © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute