Selasa, Agustus 31, 2010

Sendiri Menyepii....



kembalikan seperti dulu lagi!!!

Senin, Agustus 30, 2010

Mengalah lebih baik....


Mengingat sifat seorang yang sangat luar biasa hebatnya....
dan semoga diri bisa mengikuti sifat yang tidak semua orang bisa memiliki....

Minggu, Agustus 29, 2010

Sosok Azzam Si Anak Sholeh

Namanya Azzam. Abi menamainya demikian karena terinspirasi dari seorang pejuang abad ini, Dr. Abdullah Azzam. Tak hanya itu, sosok si Abi pun memang memiliki Azzam (Kekokohan Tekad) yang kuat dalam menjaga hidayah Allah SWT yang telah dilimpahkan.

Pendek cerita, delapan tahun lalu, ia meminang seorang muslimah, berbeda pulau, berbeda suku, berbeda latar belakang keluarga, namun satu cita-cita dengannya, membentuk keluarga bahagia sebagaimana teladan dari Rasulullah SAW dengan meniti keridhoan ilahi. Skenario Allah SWT sungguh indah, tiada seorang pun yang menyangka bahwa hidup si Abi yang dulu “khasnya anak jakarte”, rambut punk, dan malas belajar, Lalu berubah drastis menjadi rajin belajar, aktif Rohis, selepas SMA menembus dua PTN favorit, dan melesat jauh dalam karir KKN-nya (Kerja, Kuliah+ Nikah).

Tiada pula yang menyangka, seorang Abi yang rajin menggendong Azzamnya saat kuliah, ke laboratorium, ganti popok dan menyuapin bayi saat istrinya juga kuliah, sibuk mengajar privat, dan mengisi kajian ilmu, lalu tiba-tiba lulus dengan nilai gemilang dengan jadwal lulus lebih dulu dibanding teman seangkatannya.

Tidak sampai disitu, lebih dari sepuluh perusahaan menerimanya dalam waktu singkat, dan dengan pertimbangan “Azzam” maka ia pilih yang sesuai nuraninya. Sama seperti yang dirasakan istrinya, sejak dalam kandungan, Azzam sangat penurut, diajak ngobrol selalu menyahut, dengan goyangannya dalam perut. Naik turun jalanan kampus, naik-turun tangga ke lantai tiga, mendengarkan kuliah bahasa Arab adalah santapan Azzam sehari-hari saat dalam kandungan.

Satu peristiwa unik, saat Abi mengelus perut istri, “Azzam, tolong tungguin abi pas mau keluar dari perut ummi, Abi mau kerja praktek dulu nih ya nak…”. Gerakan di perut terasa sebagai jawaban atas ciuman mesra. Dan benar itu terjadi. Pada hari itu, Abi baru tiba di kota tempat sang istri akan melahirkan, pukul sebelas pagi, perjalanan yang ditempuhnya adalah 22 jam dengan bus antarpulau. Kemudian pukul dua siang, perut istrinya terasa mulas berkepanjangan, segera mereka ke rumah sakit, dan tak kurang dari dua jam, Azzam lahir, Subhanalloh… cepat dan sangat lancar, komentar dokter waktu itu. Sejak Ramadhan 7 tahun lalu, Azzam terbukti sebagai anggota tim yang hebat dalam rumah tangga sebuah pernikahan usia dini nan islami.

Jangan ragu akan janjiNYA, "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al Insyiraah: 5-6).

Sewaktu membuat skripsi dan kesulitan mencari beberapa ratus dollar, malah Allah SWT menganugerahkan project kerja sebagai ganti tema skripsi dan berhonor untuk si Abi, “rezeki Azzam memang banyak, Terima Kasih Ya Allah…”, gumamnya.

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al Ankaabut:69)

Azzam tak hanya memperkuat kadar keimanan bagi orang tuanya, ia juga menularkan hidayah pada orang lain, ada dua peristiwa indah yang sangat kukenang,

Pertama, waktu Azzam naik bus bersamaku, ia bernyanyi dan menghitung, “satu…dua…tiga… dst berbelas-belas,” seraya menoleh ke belakang, lalu tiba-tiba ia berhenti bernyanyi, “ihhh, tante jelek!”, tunjuknya pada orang yang duduk di belakangku.

Aku jadi tak enak hati, “wah maaf yah bu…,” segera kusapa ibu di belakangku. Ternyata ibu itu dengan ramah menjawab, “gak apa-apa, namanya anak-anak…,”lalu menoleh pada Azzam, “kenapa tante jelek dek? Ih, kamu lucu deh topinya…,” beliau tersenyum.

Azzam menyahut, “Naaah… sekarang tante gak jelek lagi. Tadi jelek banget, karena tante cemberut, hehehehe,” polos sekali. Singkat cerita, sang ibu yang ternyata pemilik sebuah restoran, sampai kini telah menjadi salah satu temanku, kami tetap saling berkirim sms saat telah berbeda kota, ia sangat menyayangi Azzam.

Kedua, sewaktu Azzam menyindir Bu Tina (bukan nama sebenarnya), dengan polos dan spontan ia berkata, “bu…kenapa ibu gak pake kerudung kayak ummiku? Kenapa sanggulnya harus dipamerkan? Ibu gak takut kalau dimarah Allah yah…? Ibu pasti cantik deh kalo pake kerudung, tanya aja sama ummi. Kalau gak punya kerudung, minta aja sama ummi Azzam...,” seketika Bu Tina bercakap padaku, “Ya Allah, ummi… anak kamu ini, malunya aku…” dan berkat HidayahNYA, Bu Tina selalu menutup aurat hingga kini.

Namun saat pertama kali sekolah, tampak karakter pemalunya, dan disikapi positif oleh guru-guru Azzam. Aku pun tidak panik saat itu, adalah wajar jika anak kita merasa malu di tengah komunitas yang baru. Apalagi sekolah di luar negeri, harus lebih banyak menjaga rasa malu diri, dalam arti malu untuk ikut terwarnai prilaku yang tidak terpuji.

Dalam suatu riwayat, Salim bin Abdullah dari ayahnya, mengatakan bahwa Rasulullah saw lewat pada seorang Anshar yang sedang memberi nasihat (dalam riwayat lain: menyalahkan) saudaranya perihal malu. (Ia berkata, "Sesungguhnya engkau selalu merasa malu," seakan-akan ia berkata, "Sesungguhnya malu itu membahayakanmu.") Lalu, Rasulullah saw. bersabda, "Biarkan dia, karena malu itu sebagian dari iman." (Shahih Bukhari)

Azzam pernah terluka hatinya saat hampir berusia 5 tahun, menangis di kubur sang adik yang dinantikan, namun ia tetap memanjatkan doa kepada Allah SWT usai sholat, “Ya Allah… kalau Engkau sayang adikku, tolong jagalah dia di surga. Terus kasih aku adik lagi, supaya aku bisa bermain dengannya…,” bahkan mata kami turut basah mendengar doanya. Allahu Akbar! Sekejap saja, Allah SWT mengabulkan doanya, dan ia mengelus-elus perutku tanda bermain dengan adiknya. Terima kasih Ya Allah, semoga kami selalu bersyukur atas segala anugerahMu. Robbi habli minassholihin. Amiin.

”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia…” (al-Kahfi: 46), alangkah bahagianya kami bersama Azzam, pewujud tekad sejati & dengan kehadirannya kami belajar menjadi orang tua yang baik. Kini, kuucapkan selamat kepadanya, di awal usia ke tujuh, ia berpuasa dengan lancar selama 18 jam per hari di negeri empat musim ini. Kuatkanlah, Ya Robb...

http://www.eramuslim.com/oase-iman/bidadari-azzam-sosok-azzam-si-anak-sholeh.htm


*teringat seorang sahabat yang dikarunia putra bernama Azzam dan telah dikaruniai juga satu orang putra lagi beberapa hari yang lewat, semoga ALLAH selalu memberikan keselamatan, rahmat, dan barokah NYA kepada Antum dan sekeluarga....Aminn...

Kamis, Agustus 26, 2010

Berusahalah utk bersabar hingga datang saatnya untuk 'diselamatkan'...


Beberapa hari yang lewat diri bercengkerama dengan teman ketika msih kuliah di negeri mpek mpek. Cerita panjang lebar mulai dari kegiatan sehari-hari hingga perihal tentang istrinya. Cerita tentang pengalaman untuk menyempurnakan setengah dien. Pengalaman yang menurut diri mengandung banyak hikmah, serta pengalaman yang mungkin tidak semua orang bisa mampu menjalaninya. Saluuddd buat antum akh...

Beberapa point penting yang cukup menjadi bahan renungan bagi diri. Bahan renungan yang mungkin menurut diri bisa sebagai pemacu semangat untuk bisa lebih baik lagi, baik itu dalam hal ibadah, kesabaran, keistiqomahan,dan keikhlasan.

Hal yang mungkin bisa diri ungkap saat ini yang sampai ini menjadi pikiran yaitu mengenai istilah "diselamatkan atau menyelamatkan" yang diutarakan oleh teman diri tersebut. Awal cerita tentang istilah tersebut diri hanya mengganggap biasa saja, tetapi semakin lama dan semakin diri renungkan ternyata itu mengandung makna yang sangat dalam. Istilah teman diri tentang dia yang mencoba untuk menyelamatkan, padahal sejujurnya menurut dia, dia lah yang sebenarnya telah diselamatkan.

Pada dasarnya sebuah pencapaian tujuan itu lebih gampang menuju puncak daripada bertahan ketika kita telah berada di puncak. Ketika berada dipuncak pertahanan yang kokoh lebih dibutuhkan dari pada jalan menuju puncak itu sendiri. Pertahanan perlu ditambah, diperbaharui dan diupgrade lagi supaya setiap cobaan, hadangan, dan halangan yang datang akan mampu diredam.

Konteks utama nya suatu saat akan merasakan nikmat ibadah. Nikmat yang tentu saja akan sangat sulit diperoleh tanpa adanya usaha yang ikhlas untuk mengharap ridho ILLAHI. Ketika seseorang berada di puncak atau minimal berada pada tahap lebih baik dalam hal ibadah maka dibutuhkan suatu "garis aman" yang diharapkan mampu sebagai batas minimal baginya untuk mendapat nilai aman dalam hal ibadah. Seseorang yang sudah mendalami ilmu agama pada masa pendidikan yang notabene nya jarang dihadapi "problema" hidup. Nahh problem atau masalah hidup yang sebenarnya itu akan dirasakan ketika sang mahasiswa tersebut terjun ke dunia real, istilahnya dunia pekerjaan. Idealisme yang menjadi prinsip atau pemahaman diteori (perkuliahan) akan dipraktekkan di tempat kerja, apakah keadaan ketika masih berada di perkuliahan masih sama kah dengan ketika masuk dunia kerja.

Memang ada yang mampu bertahan dengan idealis yang tinggi, tapi tentu tidak sedikit juga yang terkikis sedikit demi sedikit. Dalam hal ibadah pun juga sedikit akan berkurang, yang biasa nya tiap habis shalat baca Quran sekarang disibukkan dengan rutinitas kerja. Keadaan di rumah juga bisa demikian, dari cerita teman diri tersebut juga disadarinya bahwa bersyukur bisa "diselamatkan" sebelum titik puncak itu semakin jatuh ke bawah.

Memang seseorang bisa mampu bertahan, tapi kesabaran dan kemampuan bertahan pada zaman sekarang ini sangatlah susah sekali. Godaan bagi seseorang yang sudah mapan dalam hal materi, baginya tidak lah begitu susah untuk mendapatkan apa yang diinginkan tanpa mementingkan akibatnya. Tapi bagi yang benar-benar ingin selamat hendaknya mencari "penyelamat" terutama dalam hal ibadah dan keistiqomahan dan Rasulullah pun berwasiat :

''Wahai para pemuda, jika salah seorang dari kalian mampu menikah, maka lakukanlah, sebab menikah itu baik bagi mata kalian dan melindungi yang paling pribadi (farj).'' (HR Bukhari dan Muslim). Hadis di atas mengisyaratkan untuk segera menikah bila lahir batin, fisik maupun mental, telah mampu.

Bahkan, Rasulullah SAW mempertegas, '
'Barangsiapa yang suka syariatku, maka hendaklah mengikuti sunahku. Dan bagian dari sunahku adalah menikah.'' (HR Baihaqi).

*Humm... Berusahalah utk bersabar hingga datang saatnya untuk 'diselamatkan'...
(dipenghujung Ramadhan)

Kamis, Agustus 05, 2010

Perantauu..... Janganlah mengeluh!!!

Penyemangat diri di detik pergantian malam....
Jangan Ngeluh Mrioo!!!

The Zikr - Perantau.mp3



Perantau musafir perjuangan
Tabahkanlah hatimu
Berjuang di rantau orang
Sedih pilu hanya engkau yang tahu

Ingatan anak dan isteri
Janganlah mengiris hatimu
Kerinduan desa nan permai
Janganlah melemahkan semangat juangmu

Di waktu ujian badai terus melanda
engkau tetap gigih berjuang
membenarkan sabda junjungan
Terus memburu menuntut janji
Pastilah Islam gemilang lagi

Tapi pejuang kembara perjuangan
Ujian bukan batu penghalang
Kerana itulah syarat dalam berjuang

Oh pejuang
Di manapun ada ketenangan
Di manapun ada kebahagiaan
Bila insan kenal pada Tuhan
Kasih sayang dan pembelaan-Nya
bagi insan yang menyerahkan
Jiwa dan raga, anak dan isteri
Kepada Allah
musafir perjuangan.. © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute