Kamis, Maret 04, 2010

>>> kau ditakdirkan untuk sendiri bung!!! nikmatilah...<<<©

Perjalanan panjang itu pun masih berlanjut....
Tenang....
Aku sudah siap untuk menjalaninya....
Sudah siap untuk yang kesekian kalinya....
Ya.... Akan selalu siap....

Perjalanan panjang itu pun belum juga menemukan titik terang....
Suram....
Aku sudah terbiasa menjalani kesuraman ini....
Sudah membiasakan diri untuk kesekian kalinya....
Ya.... InsyaALLAH nanti aku akan menemukan cahaya itu....

Kenikmatan ini sudah biasa dilalui....
Nikmat memang.....
Aku tak harus pusing untuk menjalani kenikmatan ini....
Sudah dijalani koq....
Ya.... Sambil berdo'a "Ya Rabb jangan biarkan hamba sendiri...."


nb : Mrioo berjuanglah!!!

Selasa, Maret 02, 2010

Full Time Mother

Dia seorang wanita cerdas, terlahir di keluarga berada, lulusan sebuah perguruan tinggi ternama di Bandung dan memiliki kemampuan di atas perempuan biasa.

Semangatnya tinggi untuk belajar, dan itu dia buktikan ketika dia harus menemani sang suami menyelesaikan doktornya di Jerman.

Dalam waktu setahun, ia mampu menguasai bahasa Jerman, sehingga hampir semua urusan bank, asuransi kesehatan, urusan dengan imigrasi ataupun urusan sehari-hari yang memerlukan penguasaan bahasa Jerman dapat ia selesaikan sendiri tanpa harus merepotkan sang suami.

Alhamdulillah dengan dukungan isterinya tersebut, sang suami mampu menyelesaikan program doktornya tepat pada waktunya 3 tahun, walaupun umumnya banyak kasus perpanjangan karena beratnya syarat kelulusan doktor. Perannya sebagai seorang isteri yang mampu mensupport suami tidaklah diragukan.

Dia, sebutlah namanya Tari adalah seorang isteri dan ibu yang mandiri. Tetapi bukan hanya itu, yang membuatnya berbeda adalah dia seorang full time mother dan dia bangga dengan hal itu.

Dia mengabdikan hidupnya di rumah sebagai manajer rumah tangga, merawat anak-anaknya sendiri, mengerjakan urusan rumahnya sendiri, tanpa memanjakan diri dengan bantuan seorang asisten rumah tangga/pembantu.

Sepulang dari Jerman pun, dia tetap melakukan hal yang sama di Bandung. Suatu hal yang lumrah terkadang di luar negeri bila kita melakukan semuanya sendiri karena fasilitas asisten RT sungguh merupakan barang mewah.

Tetapi di Indonesia, adalah hal yang umum para ibu-ibu yang bekerja atau bahkan tidak bekerja di luar, tetap menggunakan fasilitas asisten RT. Setiap pulang berkunjung dari rumahnya, saya bisa melihat betapa Tari sangat bahagia berada dekat dengan anak-anaknya setiap detik, jam dan hari.

Dia lah madrasah anak-anaknya, tanpa memanggil guru les atau sebagainya, Tari mampu mendidik anak-anaknya melebihi anak-anak normal seusianya. Dengan pendidikan dini yang dia terapkan sejak awal, anaknya tumbuh cerdas dan penuh tercurahkan kasih sayangnya.

Ya, itulah Tari adikku, seorang wanita cerdas berpotensi besar tetapi lebih memilih mencurahkan potensinya untuk membangun surga di rumahnya, menjadi madrasah untuk anak-anaknya.

Sepulang menginap dari rumah Tari, tantenya, anak-anak saya biasanya langsung heboh memberikan laporan singkat ke ummi dan abi mereka. ”Tante Tari bikin ini sendiri lho, trus kita bikin itu, trus sebelum tidur kita diceritain cerita ini, cerita itu tetapi syaratnya harus menyetor hapalan surat-surat al-Quran dan membaca Iqra dulu”.

Kemudian disambung lagi dengan kalimat, ”Shofi (umur 5 tahun) dah iqra enam lho, Mi, bentar lagi al-Quran. Teteh (umur 6 tahun) kalah deh, masih iqra 5.” Adiknya pun tidak mau kalah menambahkan, ”Tante Tari hebat yah mi, pinter masak. Trus kita main ini, kita bikin kartu, kita bikin itu bla, bla, bla” Saya hanya tersenyum simpul sambil melirik abi mereka.

Saya sudah dapat membayangkan seabrek aktivitas menyenangkan yang mereka lakukan di rumah sepupunya. Mulai dari menggambar, mewarnai sampai mengguntingnya menjadi kartu cantik, ataupun permainan-permainan kreatif lain.

Rumah Tari memang penuh dengan semua fasilitas permainan dari arena panjat, perosotan dan sebagainyanya yang membuatnya merasa nyaman memberikan kesempatan bagi anak-anaknya bereksplorasi dan bermain sepuasnya sehingga belajar sambil bermain di rumah menjadi tidak membosankan.

Tari memang guru yang cerdas dan punya seabrek ide kreatif. Sungguh saya salut dengan keseriusannya dalam mendidik anak-anak. Dengan menjadi ibu full time toh tidak meluruhkan seluruh ilmu yang ia timba di universitas, bahkan dengan fasilitas internet dan laptop pribadinya, Tari bisa selalu up to date dan terus menambah wawasan dirinya.

Walaupun banyak orang di sekelilingnya kerap menyayangkan keputusan Tari untuk menjadi full time mother, mendesaknya untuk mengambil S2, untuk bekerja di luar dan sebagainya, tetapi Tari tetap bangga dan yakin dengan pilihannya.

Full time mother, suatu cita-cita yang pernah menjadi impian saya dan sampai saat ini pun saya masih terus mengimpikannya. Alhamdulillah saya sempat menikmati menjadi full time mother walau hanya setahun selepas kelulusan master dan kelahiran anak kedua. Dikelilingi anak-anak dan suami, memanage urusan rumah, beraktivitas dengan anak-anak di setiap berputarnya waktu, bermain di taman, refreshing ke jidoukan (taman bacaan anak-anak), merupakan saat-saat yang paling membahagiakan.

Keharusan untuk meninggalkan baju kebesaran itu, sungguh pilihan yang tidak mudah. Walau saya tahu, saya harus meniatkan jalan ini sebagai jihad, tetapi harus saya akui waktu-waktu yang terlewatkan dengan anak-anak, hari demi hari semakin bertambah.

Hitunglah secara matematis simpel saja, berapa jam seorang wanita seperti saya berada di rumah? Pergi dari rumah jam 7, mulai jam 8 sampai jam 4 saya di kantor, jam 5 saya baru sampai di rumah, baru bisa berinteraksi dengan mereka.

Jam delapan malam mereka sudah siap untuk tidur, setelah 'ritual' membaca Iqra atau buku dan hapalan surat-surat pendek, yang terkadang 'ritual' itu mulai sering didiskon karena kepenatan dan keletihan saya. Pagi bangun tidur hanya sekitar 1-2 jam saya menyiapkan mereka dari bangun, mandi dan sarapan bersama sebelum si teteh pergi ke sekolah dan adiknya di rumah.

Jadi interaksi seorang wanita yang bekerja seperti saya, sehari hanya mampu menghabiskan waktu bersama anak-anaknya sekitar 4–5 jam sehari. Belum dengan tambahan pengurangan apabila ada lembur, dinas luar kota atau dinas ke luar negeri. So, anda bisa hitung sendiri kira-kira berapa waktu anda yang hilang.

Suatu alasan klise yang mengatakan, kualitas lebih penting daripada kuantitas. Sebuah excuse yang kerap dilontarkan oleh seorang ibu wanita pekerja. Come on, Akuilah, kuantitas pun sama pentingnya, semakin banyak kuantitas semakin erat hubungan seorang anak dengan orang tuanya, kedekatan emosi, dan limpahan kasih sayang.

Hampir bisa dikatakan, kualitas berbanding lurus dengan kualitas. Terus terang, saya lebih merasa bahagia dan bangga melihat anak tumbuh dan mampu melakukan sesuatu (dia mampu berjalan, lulus toilet training-nya atau bisa mengucapkan kata-kata pertamanya) dibandingkan prestasi pribadi atau kebanggaan akan sebutan lady engineer yang melalang buana ke negara-negara luar.

Di zaman Rasulullah, banyak sekali atau bahkan hampir semua adalah full time mother, mereka tetap dapat beraktivitas dan berperan serta dalam ber-home industri, berdakwah atau menuntut ilmu.

Menjadi full time mother tidaklah hal yang mudah, saya yakin sekali hanya wanita-wanita tangguh, mungkin seperti anda atau ibu anda yang mampu melakukannya. Bila kebanyakan orang bercita-cita untuk membina karirnya di luar, saya yakin masih ada segelintir wanita-wanita tangguh dan cerdas yang bangga menjadi seorang full time mother.

Alhamdulillah, sekalipun saya melihat adanya kecenderungan banyak sekali wanita-wanita yang berlomba-lomba mencari kerja dan membina karir, tetapi masih ada wanita yang merasa bahwa saat ini, ketika anak-anak membutuhkan, tempat mereka adalah di rumah menemani dan mendampingi anak-anak mereka.

Semoga masih banyak Tari Tari yang lain, yang mengingatkan kita semua akan tugas utama kita.

My appreciation for every full time mother.
Memoir, March 07

(Ummu Zahrah)

http://eramuslim.com/oase-iman/full-time-mother.htm

nb : rumah adalah madrasah terbaik bagi setiap orang... dan orang tua adalah guru yang terbaik..... "setitis do'a tuk mencapai keridhaan generasi penerus yang kokoh, tangguh, berakhlak mulia, dan tentunya berkeyakinan yang teguh....AMIN..."


Ibu Jangan Kerja

“Ibu jangan kerja,” suara Naufal terdengar parau, dia baru bangun tidur. Aku yang tengah memasang jilbab menoleh ke arahnya.

“Ibu kerja sebentar kok, Naufal di rumah sama ayah ya,” pintaku seraya menghampirinya.

Kebetulan hari ini suamiku libur, jadi kupikir dia bisa lebih tenang dari biasanya. Dia menggelengkan kepala, kulihat wajahnya mulai merebak tanda akan menangis.

Hampir tiap hari aku harus membujuknya agar dia tidak menangis ketika melepasku berangkat kerja. Sebenarnya aku kasihan melihat dia menangis setiap kali kutinggal berangkat kerja.

Jujur, jauh dihati kecilku, aku ingin semua waktuku kuberikan pada anak semata wayangku ini. Aku ingin terus berada di samping dia, menemaninya sepanjang hari.

Tapi keadaan mengharuskan aku bekerja, karena tidak mungkin kami hanya mengandalkan gaji suamiku yang hanya seorang guru honorer.

Walaupun aku hanya bekerja di perusahaan kecil, setidaknya gajiku bisa membantu mencukupi kebutuhan kami bertiga dan biaya sekolah Naufal kelak.

Untuk menemani Naufalpun kami tidak memakai pengasuh, kami kerja bergantian karena kebetulan aku bekerja shift.

“Ibu jangan kerja,” suara Naufal kembali terdengar, kali ini diiringi isak tangis. Bocah empat tahun itu mulai menarik-narik tanganku.

“Sayang, kalau ibu nggak kerja, nanti nggak bisa belikan susu buat Naufal, nggak bisa belikan mainan buat Naufal. Gimana dong?” aku coba memberi pengertian kepadanya.

“Apalagi Naufal kan udah mau sekolah, masa tiap ibu berangkat kerja pasti nangis,” sambungku lagi sambil mengelus-elus kepalanya.

“Pokoknya ibu jangan kerja,” kali ini suara Naufal hampir tak terdengar karena kalah dengan suara tangisnya.

“Main sepeda sama ayah yuk,” kali ini giliran suamiku membujuknya. Biasanya kalau dia sedang ngambek, kalau diajak main sepeda jadi terhibur.

Kulirik jarum jam di dinding menujukkan pukul setengah tujuh pagi, aku masih memiliki waktu sepuluh menit untuk menenangkannya.

“Nggak mau!” Naufal mulai berteriak, dan tangisnyapun semakin keras. Kali ini dia mulai menjejakkan kakinya ke lantai berkali-kali, kebiasaan dia kalau sedang marah.

“Nanti ibu belikan coklat ya, atau es krim?” tawarku coba menghentikan tangisnya sambil memeluknya.

Lagi-lagi Naufal menggeleng dan tangisnya tidak juga berhenti, malah semakin keras. Air matanya membasahi seragam yang kupakai.

“Ayo antar ibu kerja,” ajak suamiku sambil menggandeng tangannya. Tapi Naufal tetap menangis, dia tidak mau lepas dari pelukanku.

Kali ini aku mulai gelisah, kulirik kembali jarum jam di dinding. Hampir mendekati pukul tujuh pagi, aku harus segera berangkat. Tidak enak kalau sering terlambat, teman yang akan kugantikan shift jaga pasti sudah menunggu dengan gelisah.

“Naufal mau antar ibu?” tawarku sambil melepaskan pelukannya.

“Nggak mau!”dia berteriak sambil menangis bergulung di lantai.

Kesabaranku mulai hilang, terlebih aku sudah tidak punya waktu lagi untuk menenangkannya.

“Biar aku berangkat sendiri,” kataku kepada suamiku.

Sambil mengucap salam kuraih helm di atas meja. Kutinggalkan Naufal, tak kuhiraukan lagi tangisannya. Kulambaikan tangan kearahnya sambil cepat berlalu.

“Maafkan ibu, sayang," bisikku dalam hati.

Di kantor, suara tangis Naufal terus terngiang di telingaku membuat aku tidak tenang bekerja dan ingin segera pulang.

“Ibu jangan kerja,” kalimat itu terus terekam dalam benakku. Aku merasa bersalah tidak bisa memenuhi permintaan Naufal.

Waktu seakan lambat berputar, tidak secepat ketika aku sibuk menenangkan Naufal tadi pagi.

* * *

Tiba waktu pulang, aku bergegas menuju tempat parkir. Mendung terlihat menggantung di langit. Aku harus segera pulang, apalagi Naufal pasti sudah menunggu.

Lima belas menit kemudian aku tiba di rumah.

“Assalamu`alaikum,” aku mengucap salam sambil membuka pintu.

“Wa`alaikum salam,” jawab Naufal dan suamiku bersamaan.

“Ibu,” teriak Naufal sambil menghambur kearahku seakan lama tak berjumpa. Sambil memeluknya aku meyodorkan bungkusan plastik berisi es krim yang kubeli tadi.

“Makasih bu," serunya kegirangan. Selanjutnya dia telah asyik menikmati es krimnya.

Aku dan suamiku tersenyum melihat tingkahnya.

“Naufal senang ya dibelikan es krim?” tanya suamiku meledek.

Dia cuma mengangguk karena mulutnya penuh dengan es krim, “Besok mau dibelikan lagi?” aku ikut bertanya.

Kembali dia mengangguk.

“Besok ibu belikan lagi, tapi Naufal janji nggak nangis kalau ibu berangkat kerja ya?” pintaku sambil terus memandanginya.

Kulihat wajah Naufal jadi sedih. Kemudian dia mulai buka suara.

“Naufal nggak usah dibelikan es krim aja, tapi ibu jangan kerja,” katanya sambil memandangku penuh harap.

Aku dan suamiku saling berpandangan. Ternyata Naufal memang tidak ingin aku bekerja.

Terbayang dibenakku, besok pasti akan ada tangis dan teriakan darinya.

“Ibu jangan kerja!”

* * *

Spesial buat buah hatiku: Kelak jadilah manusia yang berbudi luhur dan berakhlak mulia. Amien.

((Muhana Dyah Sari))

http://eramuslim.com/oase-iman/ibu-jangan-kerja.htm


nb: hmm...sebuah pengalaman menarik, dan patut untuk dipertimbangkan... terima kasih utk mbak Muhana atas ceritanya... semoga menjadi keluarga Samara..AMIN...

musafir perjuangan.. © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute